kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Di Balik APBN 2026 yang Tampak Membaik, Ekonom Temukan Alarm Fiskal


Selasa, 07 Juli 2026 / 18:40 WIB
Di Balik APBN 2026 yang Tampak Membaik, Ekonom Temukan Alarm Fiskal
ILUSTRASI. Digitalisasi Layanan, IPC TPK Implementasi TOS Nusantara & Single Billing (Dok/IPC TPK)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli

Sekilas kondisi tersebut terlihat positif. Namun, menurut Yusuf, hal itu menunjukkan APBN masih sangat bergantung pada sumber penerimaan yang bersifat siklikal seperti harga komoditas dan dividen.

"Ketika penerimaan yang berkelanjutan belum menjadi motor utama, maka perbaikan fiskal menjadi sangat sensitif terhadap perubahan kondisi eksternal. Oleh karena itu, postur APBN dapat terlihat lebih baik daripada fundamental penerimaannya," imbuh Yusuf.

Meski demikian, Yusuf mengakui terdapat tanda-tanda perbaikan pada 2026. Ia mencatat defisit APBN semester pertama lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu dan penerimaan perpajakan mulai pulih.

Menurutnya, sebagian tekanan fiskal pada awal tahun juga merupakan konsekuensi dari strategi percepatan realisasi belanja pemerintah sehingga defisit terlihat lebih besar sebelum penerimaan negara meningkat.

Baca Juga: Banggar Defisit APBN 2026 Bisa di Bawah 2,85% Jika Belanja MBG Diefisiensikan

"Saya memandang perkembangan ini sebagai sinyal bahwa tekanan fiskal mulai mereda, tetapi belum cukup kuat untuk menyatakan persoalan telah selesai," kata Yusuf.

Pandangan yang lebih optimistis disampaikan Ekonom Makro PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Myrdal Gunarto. 

Menurutnya, posisi fiskal hingga semester I-2026 masih berada dalam kondisi yang terkelola dengan baik.

Ia menilai penerimaan negara tetap mampu tumbuh berkat membaiknya kinerja perpajakan, normalisasi restitusi pajak, serta penerimaan kepabeanan dan cukai yang didukung pemberantasan rokok ilegal.

Di sisi belanja, pemerintah juga dinilai mampu menjaga efisiensi anggaran tanpa mengurangi belanja prioritas pembangunan maupun program perlindungan sosial.

"Sejauh ini posisi fiskal kita masih terkelola dengan baik. Defisit fiskal tahun ini maksimal masih di level sekitar 2,89% terhadap PDB," katanya.

Baca Juga: Defisit APBN 2026 Melebar, Banggar DPR Ingatkan Risiko terhadap Kepercayaan Pasar

Myrdal berharap momentum semester II dapat dimanfaatkan untuk memperkuat pemulihan ekonomi, selama tidak muncul guncangan baru dari lonjakan harga minyak dunia maupun eskalasi geopolitik global.

Ia juga menilai sinergi kebijakan fiskal dan moneter perlu terus diperkuat agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

"Jadi kalau kemarin suku bunga dinaikia, nanti kalau rupiahnya menguat lagi ya tidak ada salahnya juga suku bunga BI Rate diturunkan lagi," imbuh Myrdal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×