kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.974   14,00   0,08%
  • IDX 7.392   -193,96   -2,56%
  • KOMPAS100 1.031   -28,27   -2,67%
  • LQ45 756   -20,30   -2,62%
  • ISSI 260   -7,48   -2,80%
  • IDX30 399   -10,78   -2,63%
  • IDXHIDIV20 494   -13,13   -2,59%
  • IDX80 116   -3,10   -2,61%
  • IDXV30 134   -3,65   -2,66%
  • IDXQ30 129   -3,89   -2,93%

Daya Beli Kelas Menengah Tergerus, Jadi Ancaman Serius Bagi Ekonomi Indonesia


Senin, 09 Maret 2026 / 11:45 WIB
Daya Beli Kelas Menengah Tergerus, Jadi Ancaman Serius Bagi Ekonomi Indonesia
ILUSTRASI. Suasana kota Jakarta dengan gedung-gedung tingginya (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kelas menengah Indonesia ibarat generasi sandwich. Mereka dianggap mampu seperti kelas atas, makanya tidak mendapatkan stimulus seperti kelas bawah. Dan kini kelas menengah tengah menghadapi tekanan yang semakin besar.

Selain jumlahnya terus menyusut, daya beli kelompok ini juga mulai tergerus sehingga berpotensi menahan laju konsumsi domestik.

Bank UOB Indonesia menilai, penguatan sektor manufaktur dapat menjadi salah satu kunci untuk memulihkan daya beli sekaligus memperkuat ekonomi nasional.

Ekonom Asean UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja mengatakan, pembukaan lapangan kerja di sektor manufaktur, terutama yang bersifat padat karya, menjadi langkah penting untuk menopang kondisi kelas menengah.

Menurut dia, tantangan utama  Indonesia saat ini tidak hanya berasal dari sisi produksi, tetapi juga permintaan atau demand side. Menurunnya kepercayaan masyarakat untuk berkonsumsi turut menekan daya beli, terutama di kelompok kelas menengah.

“Problem di Indonesia dan dunia adalah demand side. Confidence untuk berkonsumsi, karena pada saat ini pekerjaan-pekerjaan itu sudah mulai tergerus,” kata dia, pekan lalu. 

Baca Juga: Tekanan Biaya Hidup dan Perubahan Kelas Menengah, Jumlah Pemudik 2026 Turun

Menurutnya, penguatan sektor manufaktur penting karena sektor ini mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi dapat menjadi lebih tinggi, berkualitas, dan berkelanjutan.

Ia menambahkan, beberapa sektor yang saat ini menarik minat investasi asing antara lain transportasi, pergudangan, logistik, hingga pertanian. 

Deposit, Wealth Management and Training Head UOB Indonesia, Emillya Soesanto mengungkapkan jumlah kelas menengah di Indonesia terus menyusut. 

Pada 2021, jumlah kelas menengah tercatat mencapai 57,3 juta orang atau sekitar 21,5% dari populasi. Turun menjadi 47,9 juta orang atau 17,1% pada  tahun 2024. Lalu kembali menyusut menjadi 46,7 juta orang atau 16,6% pada 2025.

Ini menjadi peringatan. Mengingat kelas menengah memiliki peran penting dalam perekonomian nasional karena menyumbang sekitar 81,5% terhadap total konsumsi ekonomi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×