Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perhubungan memperkirakan jumlah pergerakan masyarakat pada periode Lebaran 2026 akan mengalami penurunan tipis dibandingkan tahun sebelumnya.
Kementerian tersebut memproyeksikan jumlah pemudik turun sekitar 1,7% dari 146,4 juta orang pada 2025 menjadi sekitar 143,9 juta orang pada tahun ini.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai penurunan jumlah pemudik tersebut tidak lepas dari kondisi ekonomi rumah tangga yang saat ini menghadapi tekanan biaya hidup.
Baca Juga: DJP Sisir 6 Juta Wajib Pajak Non-Efektif yang Masih Punya Aktivitas Ekonomi
Menurut Yusuf, kenaikan harga kebutuhan pokok dan tekanan inflasi membuat rumah tangga lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan dasar.
"Ketika harga kebutuhan pokok naik, rumah tangga biasanya akan memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan dasar seperti makanan dan kebutuhan harian. Dalam situasi seperti itu, pengeluaran yang sifatnya tidak wajib, termasuk perjalanan mudik, sering kali menjadi pos yang dikurangi atau ditunda," ujar Yusuf kepada Kontan.co.id, Minggu (8/3).
Namun Yusuf menilai fenomena tersebut tidak hanya disebabkan oleh tekanan inflasi dalam jangka pendek. Ia juga melihat adanya faktor struktural yang mempengaruhi perilaku konsumsi masyarakat, yakni perubahan pada komposisi kelas menengah.
Menurutnya, sebagian kelompok kelas menengah kini mengalami penurunan menjadi kelompok calon kelas menengah (CKM). Karakteristik kelompok ini adalah sebagian besar pendapatannya terserap untuk konsumsi dasar, terutama makanan, sehingga ruang untuk pengeluaran lain menjadi jauh lebih terbatas.
Di sisi lain, Yusuf juga melihat adanya perubahan preferensi pada kelompok masyarakat berpendapatan lebih tinggi. Sebagian dari kelompok ini justru memanfaatkan periode libur Lebaran untuk bepergian ke luar negeri dibandingkan mudik ke daerah asal di dalam negeri.
Perubahan preferensi tersebut membuat jumlah pemudik domestik secara statistik berpotensi terlihat menurun.
Baca Juga: Data Saham dan Simpanan Bank Kini Masuk Database Geospasial Ditjen Pajak
Meski demikian, Yusuf menilai kondisi ini tidak serta-merta berarti konsumsi rumah tangga saat Lebaran akan turun tajam. Ia memperkirakan yang terjadi justru pergeseran pola konsumsi.
Sebagian rumah tangga mungkin tidak melakukan perjalanan jauh, tetapi tetap membelanjakan uangnya untuk konsumsi lokal seperti makanan, perayaan di rumah, atau aktivitas di kota tempat mereka tinggal.
"Jadi konsumsi tetap ada, hanya komposisinya yang berubah," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













