kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.919   17,00   0,10%
  • IDX 7.577   -362,70   -4,57%
  • KOMPAS100 1.058   -52,77   -4,75%
  • LQ45 772   -33,15   -4,11%
  • ISSI 268   -15,46   -5,46%
  • IDX30 410   -16,83   -3,94%
  • IDXHIDIV20 502   -16,39   -3,16%
  • IDX80 119   -5,62   -4,51%
  • IDXV30 136   -4,86   -3,45%
  • IDXQ30 132   -4,99   -3,63%

BI Diproyeksi Akan Menahan Suku Bunga Acuan pada RDG Januari 2026, Ini Alasannya


Rabu, 21 Januari 2026 / 08:54 WIB
BI Diproyeksi Akan Menahan Suku Bunga Acuan pada RDG Januari 2026, Ini Alasannya
ILUSTRASI. Bank Indonesia diprediksi menahan suku bunga acuan di level 4,75%. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) hari ini dijadwalkan akan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya setelah Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Januari 2026. 

Analis Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa memproyeksikan BI akan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%, sejalan dengan konsensus pasar.

Keputusan ini diambil setelah BI memangkas suku bunga sebanyak lima kali sepanjang 2025, dengan arah kebijakan yang kini lebih menitikberatkan pada upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Sikap ini juga konsisten dengan pandangan kami bahwa The Fed akan menahan suku bunga kebijakan di 3,75% pada pertemuan FOMC Januari 2026, sehingga memperkuat preferensi BI untuk menjaga diferensial suku bunga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," kata Jessica dalam risetnya, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Rupiah Tersungkur, BI Diproyeksi Tahan BI Rate di Level 4,75% pada Hari Ini (21/1)

Asal tahu saja, rupiah masih berada di bawah tekanan berat, melemah 1,6% year to date ke level Rp 16.950 dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk kedua di kawasan setelah won Korea Selatan. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya risiko geopolitik global yang membuat sentimen pasar tetap berada dalam fase risk off.

Permintaan terhadap aset lindung nilai juga masih tinggi, tercermin dari harga emas yang kembali mencetak rekor baru di atas US$ 4.700 per ons troi meski indeks dolar justru sedikit melemah ke level 98,7. Kondisi ini menunjukkan sikap defensif investor masih dominan terhadap aset-aset emerging market, khususnya di pasar valuta asing.

Baca Juga: Pencairan BSU 2026 Rp 900.000: Begini Kata Kemenaker dan BPJS Ketenagakerjaan

Tekanan terhadap rupiah turut diperparah oleh arus modal keluar. Pada pekan lalu, tercatat arus keluar asing bersih sebesar Rp 7,7 triliun, terutama dari pasar SBN sebesar Rp 8,2 triliun dan SRBI senilai Rp 2,6 triliun.

Dampaknya, porsi kepemilikan asing di SBN turun ke rekor terendah sekitar 13,4%, sehingga membuat rupiah semakin rentan terhadap guncangan eksternal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×