kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.979   6,00   0,04%
  • IDX 9.067   -67,29   -0,74%
  • KOMPAS100 1.247   -8,36   -0,67%
  • LQ45 878   -6,20   -0,70%
  • ISSI 332   -1,88   -0,56%
  • IDX30 448   -6,28   -1,38%
  • IDXHIDIV20 524   -14,40   -2,68%
  • IDX80 139   -0,81   -0,58%
  • IDXV30 144   -4,49   -3,02%
  • IDXQ30 143   -2,68   -1,84%

Rupiah Tersungkur, BI Diproyeksi Tahan BI Rate di Level 4,75% pada Hari Ini (21/1)


Rabu, 21 Januari 2026 / 08:47 WIB
Rupiah Tersungkur, BI Diproyeksi Tahan BI Rate di Level 4,75% pada Hari Ini (21/1)
ILUSTRASI. BI diproyeksi kembali menahan suku bunga acuan atawa BI Rate di level 4,75% pada RDG hari ini (21/1/2026) walau rupiah melemah tajam


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang diumumkan hari ini (21/1/2026).

Wakil Kepala Bidang Penelitian LPEM FEB UI Jahen Fachrul Rezki mengatakan, kebijakan tersebut tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan stabilitas eksternal di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

“Mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dipandang sebagai langkah tepat untuk menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan stabilitas eksternal, disertai intervensi valas yang terukur guna meredam volatilitas rupiah yang berlebihan,” ujar Jahen, Rabu (21/1/2026).

Menurut Jahen, inflasi domestik masih berada dalam sasaran Bank Indonesia, meskipun posisinya mendekati batas atas. Namun demikian, dinamika nilai tukar rupiah tetap menjadi perhatian utama otoritas moneter.

Baca Juga: Izin Pemanfaatan Hutan untuk Tambang Emas Martabe Dicabut, Ini Profil Agincourt

“Dengan ketidakpastian global yang tinggi dan dolar AS yang kuat, pelonggaran kebijakan moneter berisiko memperlemah jangkar stabilitas,” jelasnya.

Lingkungan eksternal juga dinilai kurang kondusif seiring penguatan dolar AS, perubahan ekspektasi arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. 

Walaupun memang Indonesia mencatat arus masuk portofolio yang cukup besar setelah The Fed memangkas suku bunga dan BI mempertahankan kebijakannya, tekanan eksternal masih membebani nilai tukar rupiah.

"Dalam situasi ini, stabilitas nilai tukar menjadi prioritas kebijakan. Mempertahankan BI-Rate di 4,75% dinilai penting untuk menjaga selisih suku bunga, menopang kepercayaan pasar, dan menahan volatilitas rupiah di tengah ketidakpastian global yang berlanjut," tegas Jehan.

Inflasi pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,92% secara tahunan (yoy), meningkat dari 2,72% (yoy) pada November 2025 dan menjadi level tertinggi sejak April 2024. Kontributor utama inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya.

Kenaikan harga pangan terutama dipicu oleh cabai merah, cabai rawit, dan beras akibat pasokan yang mengetat karena cuaca buruk di sentra produksi Sumatra dan Jawa. Kondisi ini diperparah oleh banjir di sejumlah wilayah Sumatra serta meningkatnya permintaan selama periode Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga: RI Kekurangan Dokter, Prabowo Ajak Inggris Bangun 10 Universitas Baru di Indonesia

Sementara itu, inflasi kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat tajam, didorong lonjakan harga emas global sepanjang 2025. Kenaikan harga emas mencerminkan meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Secara bulanan, inflasi Desember 2025 mencapai 0,64% (mtm), naik signifikan dibandingkan November yang sebesar 0,17% (mtm).

Inflasi inti juga meningkat menjadi 2,38% (yoy), sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah naik akibat penyesuaian tarif air minum, rokok, BBM nonsubsidi, dan tarif transportasi selama musim liburan.

Meskipun Indonesia mencatat arus masuk portofolio yang cukup besar ke pasar obligasi dan saham domestik, rupiah tetap terdepresiasi sekitar 1,16% dalam periode pertengahan Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026.

Pelemahan tersebut terutama disebabkan penguatan dolar AS yang didorong oleh data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan, meningkatnya permintaan aset aman, serta kekhawatiran investor terhadap posisi fiskal Indonesia yang mendekati batas defisit undang-undang.

Baca Juga: Investasi Inggris di Sektor Keuangan dan Maritim Siap Banjiri Indonesia

Imbal hasil obligasi pemerintah tenor pendek menurun seiring masuknya dana asing, sementara imbal hasil tenor panjang naik tipis, mencerminkan preferensi investor terhadap instrumen jangka pendek seperti SRBI.

Ke depan, meskipun konsumsi rumah tangga menguat pada akhir 2025, tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut pada Januari 2026. Risiko banjir di berbagai wilayah, sebagaimana diingatkan oleh BMKG, berpotensi menahan laju penurunan inflasi. Hal ini tercermin dari meningkatnya Indeks Ekspektasi Harga pada awal tahun.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$ 156,5 miliar pada Desember 2025, setara dengan 6,4 bulan impor. Posisi ini dinilai memberikan bantalan yang kuat bagi stabilitas eksternal di tengah volatilitas global yang masih tinggi.

Selanjutnya: Menilik Daftar Sektor Unggulan yang Akan Investasi ke Kawasan Industri pada 2026

Menarik Dibaca: Hasil Kualifikasi Indonesia Masters 2026: 4 Wakil Indonesia Melaju ke Babak 32 Besar

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×