kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.700.000   20.000   0,75%
  • USD/IDR 17.883   -7,00   -0,04%
  • IDX 6.302   -72,08   -1,13%
  • KOMPAS100 823   -12,50   -1,50%
  • LQ45 627   -6,68   -1,05%
  • ISSI 217   -3,15   -1,43%
  • IDX30 351   -3,41   -0,96%
  • IDXHIDIV20 427   -2,06   -0,48%
  • IDX80 94   -1,35   -1,41%
  • IDXV30 117   -1,05   -0,89%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,56%

Banyak Protes, Ini Penjelasan BPS Tentang Desil, Cek Cara Ubah Nomor Desil 9 & 10


Jumat, 14 Agustus 2026 / 07:23 WIB
Banyak Protes, Ini Penjelasan BPS Tentang Desil, Cek Cara Ubah Nomor Desil 9 & 10
ILUSTRASI. Banyak Protes, Ini Penjelasan BPS Tentang Desil, Cek Cara Ubah Nomor Desil 9 & 10


Reporter: Adi Wikanto, Dendi Siswanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil pengecekan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) ramai diperbincangkan masyarakat. Sejumlah warga mengaku heran karena tercatat dalam desil 9 atau 10, meski merasa kondisi ekonominya belum tergolong mapan. Simak cara mengubah desil agar Anda tidak lagi masuk ke desil 9 atau 10.

Keluhan tersebut salah satunya muncul di media sosial Threads. Seorang pengguna mengaku masuk desil 9 meski tinggal di rumah kontrakan tipe 36, hanya memiliki satu mobil bekas, dan jarang bepergian.

Pengguna lainnya mengaku tercatat dalam desil 10 meski masih tinggal di rumah kontrakan dan keluarga hanya mengandalkan penghasilan suami sekitar Rp3 juta per bulan.

Lantas, apakah masuk desil 9 atau desil 10 DTSEN berarti seseorang tergolong kaya?

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cilegon memberikan penjelasan melalui akun Threads resminya, @bpscilegon.

Tonton: CNG 3 Kg Gantikan LPG 3 Kg, Uji Coba ke Masyarakat Dimulai Pekan Depan

Apa arti desil DTSEN?

BPS menjelaskan, desil merupakan pembagian keluarga ke dalam 10 kelompok berdasarkan peringkat kondisi sosial ekonomi.

Seluruh keluarga terlebih dahulu diurutkan berdasarkan kondisi sosial ekonominya. Setelah itu, keluarga tersebut dibagi menjadi 10 kelompok dengan jumlah yang relatif sama.

"Secara gampangnya, desil itu membagi jumlah keluarga menjadi 10 bagian/kotak sama banyak," tulis BPS Cilegon, dikutip Kamis (13/8/2026).

Dengan mekanisme tersebut, desil 1 merupakan kelompok dengan peringkat kondisi sosial ekonomi paling rendah, sedangkan desil 10 berada pada peringkat paling tinggi.

Namun, BPS menegaskan bahwa desil bukan pengelompokan berdasarkan batas penghasilan tertentu.

Artinya, tidak ada aturan bahwa keluarga dengan penghasilan Rp3 juta otomatis masuk desil tertentu, sementara keluarga dengan penghasilan Rp20 juta pasti masuk desil lainnya.

"Kotak-kotak inilah yang disebut desil. Jadi, dalam pengelompokan desil tidak ada cut off point. Tidak ada penghasilan sekian masuk desil x, atau aset sekian masuk desil y. Murni berdasarkan pemeringkatan/ranking keluarga," jelas BPS.

Baca Juga: BPS Mencatat Sebanyak 9,29 Juta Keluarga Belum Memiliki Rumah

Kenapa orang berpenghasilan rendah bisa masuk desil 9 atau 10?

Menurut BPS, penentuan posisi keluarga dalam DTSEN tidak hanya melihat pendapatan.

Ada banyak variabel yang diperhitungkan dalam proses pemeringkatan. Variabel tersebut antara lain kondisi perumahan, kepemilikan aset atau barang, demografi dan pendidikan, ketenagakerjaan, kepemilikan usaha, serta kesehatan.

Karena menggunakan banyak indikator, kondisi satu keluarga tidak dapat ditentukan hanya dari besarnya gaji atau penghasilan bulanan.

Hal ini juga menjelaskan mengapa dua keluarga dengan penghasilan yang terlihat relatif sama dapat memperoleh peringkat desil berbeda.

Sebaliknya, keluarga dengan penghasilan yang berbeda cukup jauh juga dapat berada dalam desil yang sama.

Tonton: Pertalite Mau Dibatasi untuk Orang Kaya, Hemat Rp17 Triliun?

Desil 10 bukan berarti semua orang kaya

BPS juga meluruskan anggapan bahwa seluruh keluarga yang masuk desil 10 merupakan kelompok orang kaya.

Menurut BPS, kelompok desil 10 memiliki kondisi ekonomi yang sangat beragam. Di dalamnya terdapat keluarga kelas menengah hingga keluarga dengan kekayaan sangat besar.

"Di desil yang sama, ada konglomerat dan ultra-rich dengan penghasilan miliaran hingga triliunan rupiah per bulan. Tapi, ada juga keluarga dengan penghasilan jutaan per bulan," tulis BPS.

Dengan demikian, desil 10 tidak menunjukkan bahwa seluruh keluarga di dalam kelompok tersebut mempunyai penghasilan atau kekayaan yang sama.

Justru, perbedaan kondisi yang sangat lebar dalam desil tersebut menunjukkan adanya ketimpangan ekonomi yang cukup besar.

"Kontras yang begitu tajam di dalam desil 10 itu sendiri menunjukkan betapa ekstremnya ketimpangan ekonomi di Indonesia," tulis BPS.

Tonton: Pengangguran Turun Jadi 7,22 Juta, Tapi 1 Juta Lulusan Sarjana Masih Menganggur

Desil dihitung berdasarkan keluarga, bukan individu

Hal lain yang perlu dipahami adalah unit pemeringkatan DTSEN.

BPS menegaskan bahwa pemeringkatan desil dilakukan terhadap keluarga, bukan individu.

Karena itu, kondisi ekonomi seorang anggota keluarga tidak bisa dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai posisi desil keluarga.

Misalnya, seseorang memiliki penghasilan Rp3 juta per bulan. Angka tersebut tidak serta-merta menggambarkan seluruh kondisi ekonomi keluarganya karena masih ada variabel lain yang ikut diperhitungkan.

Begitu pula dengan kepemilikan rumah, kendaraan atau aset lainnya. Satu indikator tidak otomatis menentukan seseorang masuk desil tertentu.

Baca Juga: Desil 10 Belum Tentu Orang Kaya, Ini Alasan Pemetaan DTSEN Dipersoalkan

Jangan percaya tabel penghasilan di media sosial

BPS juga mengingatkan masyarakat untuk tidak langsung mempercayai tabel yang beredar di media sosial dan menghubungkan nominal penghasilan tertentu dengan desil tertentu.

Menurut BPS, tabel semacam itu tidak tepat karena tidak ada ambang pendapatan tunggal (cut off point) untuk menentukan desil.

Penentuan desil dilakukan melalui pemeringkatan menggunakan puluhan variabel dengan bobot yang berbeda.

Karena itu, warga yang menemukan hasil desil yang tidak sesuai dengan persepsi kondisi ekonominya sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa data tersebut hanya ditentukan berdasarkan gaji atau kepemilikan aset tertentu.

Intinya, desil DTSEN menunjukkan posisi relatif sebuah keluarga dibandingkan keluarga lainnya berdasarkan berbagai indikator sosial ekonomi, bukan label kaya atau miskin berdasarkan besarnya penghasilan. 

Cara memperbarui desil bansos

Kementerian Sosial (Kemensos) membuka layanan bagi masyarakat yang ingin memperbarui data desil jika dirasa tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Layanan tersebut dapat dilakukan melalui jalur formal dan jalur mandiri.

Berikut ini tata cara memperbarui data desil menurut Kemensos:

1. Melalui aplikasi "Cek Bansos"

Joko mengatakan, perubahan data desil dapat dilakukan melalui aplikasi "Cek Bansos" yang diinstall melalui PlayStore untuk pengguna Android. Berikut caranya:

  • Unduh aplikasi "Cek Bansos" di PlayStore
  • Lakukan pendaftaran jika belum memiliki akun
  • Setelah itu, login menggunakan username dan password yang didaftarkan
  • Setelah masuk ke akun, klik tombol "Usulkan Pembaruan"
  • Isi dan lengkapi pertanyaan yang tersedia
  • Tunggu hingga petugas Pendamping Sosial melakukan survei ke rumah
  • Tunggu hingga proses selesai.

Tonton: Motor Listrik Nasional Diluncurkan, 5 Hal Ini Jadi Penentu

2. Datang ke kelurahan

Cara berikutnya adalah dengan mendatangi Desa/Kelurahan atau Dinas Sosial setempat. Berikut caranya:

  • Datang ke desa atau kelurahan setempat
  • Pemohon bisa juga datang ke kantor Dinas Sosial terdekat
  • Sampaikan kepada petugas tujuan untuk memperbarui DTSEN
  • Ikuti petunjuk selanjutnya
  • Tunggu hingga petugas Pendamping Sosial melakukan survei ke rumah
  • Tunggu hingga proses selesai.

Selanjutnya, data terbaru yang sudah dihimpun akan diserahkan ke BPS untuk dilakukan perangkingan ulang. Perlu diketahui, proses perangkingan dilakukan oleh BPS setiap tiga bulan sekali.


 

732 Ribu Orang Berebut MagangHub, Hanya 150 Ribu yang Dapat Kuota

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×