kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Apindo Ingin Sawit hingga Rempah RI Bebas Tarif Tinggi di AS


Jumat, 01 Agustus 2025 / 11:45 WIB
Apindo Ingin Sawit hingga Rempah RI Bebas Tarif Tinggi di AS
ILUSTRASI. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani bersama jajaran pengurus pusat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta.


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani menyatakan bahwa Indonesia masih memiliki peluang untuk menekan tarif ekspor ke Amerika Serikat (AS), yang saat ini dikenakan tarif dasar sebesar 19%.

Menurut Shinta, peluang itu dapat dimanfaatkan melalui strategi negosiasi yang terukur dan perluasan pasar ekspor sebagai langkah menjaga daya saing produk Indonesia di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan global.

Baca Juga: Investasi Tumbuh, PHK Naik: Industri Tekstil Terancam Deindustrialisasi

"Peluang masih terbuka selama Indonesia dan AS belum menandatangani perjanjian yang lebih rinci. Kami mendorong agar produk-produk yang tidak diproduksi di AS seperti sawit, kopi, kakao, dan rempah-rempah bisa mendapatkan tarif preferensial," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (31/7/2025).

Selain komoditas mentah, Apindo juga mendorong agar produk manufaktur padat karya masuk dalam daftar prioritas negosiasi tarif rendah, mengingat sektor ini berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja.

Shinta menambahkan, tarif tinggi berpotensi menekan daya saing sektor-sektor yang bergantung pada pasar AS seperti tekstil, furnitur, dan perikanan.

"Kalau tarif kita lebih tinggi dari negara lain seperti Vietnam atau India, maka produk Indonesia akan kalah bersaing. Tapi jika lebih rendah, justru ada peluang pasar yang bisa dimaksimalkan," ujarnya.

Baca Juga: Pembelian Emas oleh Konsumen Akhir Bebas Pajak Per Hari Ini, Sudah Tahu?

Menariknya, menurut perhitungan Dewan Ekonomi Nasional, kebijakan tarif 19% justru dinilai dapat menciptakan hingga 1,9 juta lapangan kerja baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,5%.

Namun Shinta menekankan pentingnya tetap menjaga keseimbangan antara perlindungan dan akses pasar.

Selain pasar AS, Apindo juga mendorong diversifikasi ekspor ke kawasan potensial lain. Salah satunya adalah Uni Eropa melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) yang kini dalam tahap finalisasi.

"Potensi nilai perdagangan Indonesia-Uni Eropa bisa melonjak dari US$ 17 miliar menjadi US$ 60 miliar dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya.

Baca Juga: Tarif Ekspor ke AS Masih Tinggi, Apindo Desak Reformasi Iklim Usaha Domestik

Apindo juga mengidentifikasi pasar non-tradisional seperti Brasil, Mesir, dan Afrika Selatan sebagai peluang baru yang perlu digarap untuk memperkuat posisi ekspor nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×