kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.978   18,00   0,11%
  • IDX 7.321   -264,62   -3,49%
  • KOMPAS100 1.020   -39,96   -3,77%
  • LQ45 749   -27,08   -3,49%
  • ISSI 256   -10,71   -4,01%
  • IDX30 396   -14,53   -3,54%
  • IDXHIDIV20 491   -15,97   -3,15%
  • IDX80 115   -4,31   -3,63%
  • IDXV30 133   -4,52   -3,29%
  • IDXQ30 128   -4,76   -3,59%

Ancaman Kenaikan BBM Menguat, Ekonom Waspadai Tekanan ke Daya Beli dan Konsumsi


Senin, 09 Maret 2026 / 08:29 WIB
Ancaman Kenaikan BBM Menguat, Ekonom Waspadai Tekanan ke Daya Beli dan Konsumsi


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali mencuat seiring tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 akibat lonjakan harga minyak dunia.

Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan kebijakan yang tidak mudah: menyesuaikan harga BBM atau merombak alokasi belanja negara demi menjaga defisit tetap di bawah batas aman.

Sinyal kebijakan tersebut muncul dari Kementerian Keuangan yang tengah menyiapkan berbagai skenario untuk meredam dampak kenaikan harga minyak.

Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah menaikkan harga BBM bersubsidi, selain langkah realokasi dan efisiensi anggaran.

Baca Juga: Ekonom: Konsumen Kian Pesimis soal Lapangan Kerja dan Mulai Menahan Belanja

Namun, kalangan ekonom mengingatkan bahwa kebijakan kenaikan BBM berpotensi memicu dampak ekonomi yang luas. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai kebijakan tersebut hampir pasti mendorong inflasi biaya.

“Dampak lanjutan yang perlu diwaspadai adalah pelemahan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).

Menurut Rizal, kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya transportasi dan logistik. Kondisi itu berpotensi menekan daya beli masyarakat dan pada akhirnya mengurangi konsumsi rumah tangga. 

Padahal, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53%–54% terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga setiap tekanan pada sektor ini bisa berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: Daya Beli Masyarakat Naik Menjelang Nataru, Ini Buktinya

Di tengah risiko tersebut, Rizal menilai pemerintah perlu mempertimbangkan langkah lain yang dampaknya tidak terlalu luas terhadap perekonomian. Salah satu opsi yang dinilai lebih realistis adalah rasionalisasi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program tersebut diperkirakan menyerap anggaran hingga Rp 335 triliun pada 2026. Karena implementasinya masih bertahap, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk menyesuaikan skala program, target penerima, maupun kecepatan pelaksanaannya.

Selain pengaturan ulang belanja, penguatan penerimaan negara juga dinilai penting untuk menjaga disiplin fiskal tanpa menekan pertumbuhan ekonomi.

Saat ini rasio pajak Indonesia masih sekitar 10% terhadap PDB, jauh di bawah rata-rata negara berkembang yang berkisar 15%–18%.

Rizal menilai peningkatan kepatuhan pajak dan perluasan basis pajak dapat menjadi jalan untuk memperkuat penerimaan negara.

“Perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan, serta perbaikan kualitas belanja menjadi langkah penting untuk menjaga disiplin fiskal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga menilai pemerintah memiliki opsi lain selain menaikkan harga BBM. Penajaman dan realokasi anggaran dinilai bisa menjadi langkah untuk menjaga defisit APBN tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB.

Baca Juga: Meski Ada Stimulus, Konsumsi Rumah Tangga Diramal Tumbuh di Bawah Pertumbuhan Ekonomi

Tekanan terhadap fiskal pemerintah semakin terasa jika harga minyak dunia terus meningkat. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pemerintah telah melakukan simulasi risiko terkait lonjakan harga minyak.

Hasil simulasi menunjukkan, jika harga minyak dunia rata-rata mencapai US$92 per barel dalam setahun, maka defisit APBN berpotensi melebar hingga 3,6% terhadap PDB. “Biasanya kami melakukan langkah-langkah penyesuaian supaya defisit tetap di bawah 3%,” ujar Purbaya.

Dalam skenario tersebut, pemerintah disebut akan lebih dulu melakukan efisiensi belanja negara sebelum mempertimbangkan penyesuaian harga BBM bersubsidi.

Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah penghematan anggaran program MBG serta penundaan sejumlah belanja tertentu.

Baca Juga: Konsumsi Naik, Data Beli Masih Perlu Diungkit

Meski demikian, wacana kenaikan harga BBM tetap menjadi isu sensitif karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat luas. 

Jika opsi tersebut diambil, tekanan terhadap inflasi, biaya transportasi, hingga daya beli berpotensi menjadi konsekuensi yang harus dihadapi perekonomian domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×