kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.847   45,00   0,27%
  • IDX 8.241   -50,41   -0,61%
  • KOMPAS100 1.165   -7,03   -0,60%
  • LQ45 837   -5,28   -0,63%
  • ISSI 296   -0,59   -0,20%
  • IDX30 435   -0,94   -0,22%
  • IDXHIDIV20 521   0,70   0,13%
  • IDX80 130   -0,78   -0,60%
  • IDXV30 143   0,85   0,60%
  • IDXQ30 141   0,01   0,00%

Jumlah Kelas Menengah Turun Lebih Dalam di 2025 Tertekan Daya Beli dan Konsumsi


Minggu, 08 Februari 2026 / 15:43 WIB
Jumlah Kelas Menengah Turun Lebih Dalam di 2025 Tertekan Daya Beli dan Konsumsi
ILUSTRASI. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Berharap Pengunjung Mal Meningkat di Masa Libur Sekolah (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mandiri Institute mencatat jumlah kelas menengah Indonesia kembali menurun pada 2025, bahkan lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya, seiring tekanan pada daya beli dan pertumbuhan konsumsi yang melambat.

Di saat yang sama, kelompok aspiring middle class (calon kelas menengah) justru mengalami peningkatan signifikan.

Dalam laporan tersebut, jumlah kelas menengah turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025, atau berkurang sekitar 1,1 juta orang.

Penurunan ini lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya turun 0,4 juta orang. Jumlah tersebut setara dengan 16,6% dari total penduduk nasional.

Baca Juga: Rojali dan Rohana Merebak, Cermin Daya Beli Turun atau Tren Belanja Baru?

Di sisi lain, aspiring middle class meningkat dari 137,5 juta pada 2024 menjadi 142,0 juta orang pada 2025, atau setara dengan 50,4% dari total penduduk nasional.

Kelompok rentan (vulnerable) juga mengalami kenaikan tipis dari 67,7 juta menjadi 67,9 juta orang, atau setara 24,1% dari populasi.

Sementara itu, jumlah masyarakat kelompok miskin (poor) menurun dari 25,2 juta pada 2024 menjadi 23,9 juta pada 2025 atau sekitar 8,5% dari total penduduk nasional.

Adapun kelompok kelas atas/kaya (upper class) masih sangat kecil, hanya sekitar 0,4% dari total penduduk, yakni 1,2 juta orang pada 2025, naik tipis dari 1,1 juta pada tahun sebelumnya.

Mandiri Institue juga mencatat bahwa penurunan kelas menengah pada 2025 terjadi lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan kelas menengah menghadapi tantangan yang lebih berat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi yang lebih terbatas dibandingkan kelompok ekonomi lainnya.

Baca Juga: Menakar Strategi Pemerintah untuk Dongkrak Daya Beli Jelang Tutup Tahun

Pada 2025, pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah hanya sebesar 4,1% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan konsumsi per kapita nasional yang mencapai 4,6%. Angka tersebut juga menjadi yang paling rendah dibandingkan kelompok lain. 

Sebagai perbandingan, konsumsi masyarakat miskin tumbuh 4,7% yoy, aspiring middle class tumbuh 4,8% yoy, kelompok rentan tumbuh 5% yoy, dan kelompok kelas atas tumbuh 6,8% yoy.

Dari sisi komposisi pengeluaran, konsumsi kelas menengah ditopang oleh sektor non-food yang tumbuh relatif resilien sebesar 6,4% yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan 3,2% pada 2024.

Namun, pendorong utama masih terkait pengeluaran gaya hidup (lifestyle-driven). Pertumbuhan tertinggi didorong oleh pengeluaran transportasi yang melonjak 22,5% yoy, sejalan dengan meningkatnya mobilitas perjalanan jarak pendek sepanjang 2025.

Baca Juga: Keyakinan Konsumen Tekan Daya Beli Masyarakat, Simak Sejumlah Saham yang Berisiko

Selain itu, konsumsi barang tahan lama (durable goods) juga meningkat pesat, terutama pembelian handphone yang tumbuh 31,2% yoy. Di sisi lain, pertumbuhan konsumsi food justru melambat signifikan menjadi 0,9% yoy, turun dari 4,6% pada tahun sebelumnya.

Secara umum, pembelian barang tahan lama dan kebutuhan transportasi menopang konsumsi non-food kelas menengah, disusul oleh pengeluaran essential seperti kesehatan, pendidikan, dan Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

Meski secara nasional jumlah kelas menengah menurun, dinamika antarwilayah menunjukkan pola yang tidak seragam.

Beberapa provinsi masih mencatat pertumbuhan kelas menengah, dipimpin oleh Jawa Barat dengan tambahan 358.000 orang, Jawa Timur 152.000 orang, dan DI Yogyakarta 63 ribu orang. Sebaliknya, kontraksi terdalam terjadi di Sumatera Selatan, Banten, dan Jawa Tengah.

Baca Juga: Purbaya Buktikan Daya Beli Masyarakat Meningkat Jelang Nataru

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, mengatakan pola tersebut menunjukkan tekanan terhadap kelas menengah bersifat asimetris dan dipengaruhi kondisi ekonomi daerah. 

"Sehingga diperlukan pendekatan kebijakan yang berbeda dimana daerah yang masih tumbuh difokuskan untuk menjaga momentum, sementara daerah yang menurun difokuskan untuk peningkatan kualitas pekerjaan dan penguatan daya beli," tulisnya dalam laporan tersebut, Jumat (6/2/2026).

Selanjutnya: Batas Investasi Pasar Saham Naik Jadi 20%, OJK Dorong Dapen dan Asuransi Masuk LQ45

Menarik Dibaca: 6 Alasan Tidur Bisa Bikin Berat Badan Turun yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×