kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.703.000   40.000   1,50%
  • USD/IDR 16.940   23,00   0,14%
  • IDX 9.100   24,29   0,27%
  • KOMPAS100 1.259   2,84   0,23%
  • LQ45 890   0,86   0,10%
  • ISSI 331   1,17   0,36%
  • IDX30 454   1,72   0,38%
  • IDXHIDIV20 537   3,62   0,68%
  • IDX80 140   0,20   0,14%
  • IDXV30 148   1,16   0,79%
  • IDXQ30 146   0,52   0,36%

WEF Ingatkan Risiko Pengangguran Jadi Ancaman Utama Ekonomi Indonesia 2026–2028


Senin, 19 Januari 2026 / 10:10 WIB
WEF Ingatkan Risiko Pengangguran Jadi Ancaman Utama Ekonomi Indonesia 2026–2028
ILUSTRASI. Bursa kerja untuk kurangi angka pengangguran (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia diproyeksikan menghadapi tantangan serius di pasar tenaga kerja dalam dua tahun ke depan, terutama meningkatnya risiko pengangguran usia muda yang berpotensi menimbulkan efek rambatan ke perekonomian secara luas.

Isu ini bahkan menjadi ancaman utama ekonomi nasional dalam periode 2026–2028.

Laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF) menempatkan ketiadaan peluang ekonomi atau pengangguran sebagai risiko ekonomi terbesar bagi Indonesia.

WEF menilai, bonus demografi yang dimiliki Indonesia belum diimbangi penciptaan lapangan kerja berkualitas. 

Baca Juga: WEF Ungkap 5 Risiko Utama Indonesia 2026–2028, Pengangguran di Urutan Pertama

Ketidaksesuaian keterampilan tenaga kerja dengan kebutuhan industri, dominasi sektor informal, serta perlambatan ekonomi global dinilai berpotensi memperlebar kesenjangan kesempatan kerja dan memicu masalah sosial lanjutan jika tidak direspons dengan kebijakan ketenagakerjaan yang adaptif.

Selain pengangguran, WEF juga menyoroti keterbatasan layanan publik dan sistem perlindungan sosial sebagai risiko kedua. 

Lemahnya akses pendidikan, infrastruktur, hingga jaminan hari tua dinilai dapat menghambat mobilitas ekonomi dan memperlebar ketimpangan pendapatan dalam jangka panjang.

Risiko berikutnya datang dari pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). 

Meski meningkatkan efisiensi dan produktivitas, AI juga memunculkan kekhawatiran penggantian tenaga kerja, kesenjangan keterampilan digital, serta persoalan etika dan tata kelola data.

Perlambatan ekonomi global, termasuk potensi resesi atau stagnasi, menjadi risiko keempat yang membayangi Indonesia.

Baca Juga: Pengangguran Jadi Risiko Ekonomi Terbesar Indonesia Dua Tahun ke Depan, Ini Faktornya

Ketergantungan pada kondisi eksternal, fluktuasi harga komoditas, dan tekanan geopolitik berisiko menekan daya beli masyarakat, mempersempit ruang fiskal, serta memperlambat penciptaan lapangan kerja. 

Sementara itu, inflasi, terutama dari harga pangan dan energi, menjadi risiko kelima yang dapat menggerus daya beli rumah tangga, khususnya kelompok berpendapatan rendah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Muhammad Rizal Taufikurahman menilai wajar jika pengangguran menjadi risiko utama ekonomi Indonesia. 

“Pengangguran menjadi simpul dari persoalan lain, yakni kualitas layanan publik yang belum optimal sehingga menekan produktivitas,” ujar Rizal kepada KONTAN, Minggu (18/1/2026).

Menurut Rizal, persoalan utama bukan semata tingkat pengangguran terbuka yang secara statistik relatif rendah, tercatat 4,85% pada Agustus 2025, melainkan kualitas dan daya serap lapangan kerja. Banyak tenaga kerja masih terserap di sektor informal atau berproduktivitas rendah. 

Baca Juga: Pengangguran Naik Lagi, Sinyal Lapangan Kerja Formal Kian Tertekan

Di sisi lain, adopsi teknologi, termasuk AI, berpotensi mempercepat pergeseran jenis pekerjaan tanpa diimbangi kesiapan keterampilan tenaga kerja.

Akumulasi berbagai risiko tersebut, lanjut Rizal, berpengaruh langsung terhadap keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. “Solusinya menuntut pergeseran fokus kebijakan dari sekadar mengejar angka pertumbuhan menuju penguatan kualitas pertumbuhan,” tegasnya. 

Ia menambahkan, penciptaan lapangan kerja perlu diarahkan ke sektor yang benar-benar padat karya dan berorientasi produktivitas, disertai perbaikan pendidikan dan vokasi serta transformasi teknologi yang memperkuat, bukan menggantikan, peran tenaga kerja.

Selanjutnya: 7 Kisah Ibu Tunggal yang Bikin Haru dan Menginspirasi dari Dalam dan Luar Negeri

Menarik Dibaca: 7 Kisah Ibu Tunggal yang Bikin Haru dan Menginspirasi dari Dalam dan Luar Negeri

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×