kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

BI Sebut Inklusi dan Literasi Keuangan Perlu Terus Ditingkatkan


Jumat, 06 Maret 2026 / 10:51 WIB
BI Sebut Inklusi dan Literasi Keuangan Perlu Terus Ditingkatkan
ILUSTRASI. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memandang, inklusi dan literasi keuangan perlu terus ditingkatkan.

Gubernur BI, Perry Warjiyo mencatat, berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 92,74%. Capaian tersebut perlu ditingkatkan agar mencapai target 98% pada 2045.

“Literasi dan inklusi keuangan di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Sudah ada kemajuan dari tahun ke tahun, tapi perlu terus ditingkatkan,” tutur Perry dalam agenda Aksi Kuatkan Literasi dan Inklusi keuangan untuk Kesejahteraan, Jumat (6/3/2026).

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Program PINTAR untuk Dorong Inklusi Keuangan Desa

Sementara itu, berdasarkan SNLIK 2025, tingkat literasi masyarakat baru mencapai 66,46%.

Perry membeberkan, sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJPN) 2025–2045, peningkatan inklusi keuangan harus diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan.

Ia menjelaskan bahwa upaya meningkatkan inklusi keuangan tidak hanya sebatas mendorong masyarakat menggunakan akun keuangan, QRIS, maupun layanan keuangan lainnya. Lebih dari itu, masyarakat perlu memiliki literasi keuangan yang memadai.

Baca Juga: BI Catat Uang Beredar Tumbuh 10% Menjadi Rp 10.117 Triliun di Januari 2026

Menurutnya, literasi keuangan penting agar masyarakat memahami alasan perlunya akses terhadap produk keuangan serta mampu memanfaatkannya secara bijak. Dengan literasi yang baik, masyarakat juga diharapkan dapat terlindungi dari berbagai potensi kejahatan keuangan, seperti penipuan, deteriorasi keuangan, maupun praktik pinjaman online ilegal.

“Oleh karena itu, mari kita bersama dengan Kemenko Perekonomian dan Perbankan, mari kita tingkatkan tingkat literasi untuk mencapai berbagai target,” ungkapnya.

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga di Level 4,75% demi Jaga Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×