Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Laporan terbaru World Economic Forum (WEF) bertajuk The Global Risks Report 2026 menyebutkan, dalam dua tahun ke depan atau 2026-2028, Indonesia akan dihadapkan pada lima permasalahan utama.
Pada urutan pertama, yakni kurangnya kesempatan ekonomi atau pengangguran utamanya di usia muda. Di sisi lain, Indonesia juga diperkirakan akan menghadapi permasalahan pelayanan publik dan perlindungan sosial yang tidak memadai (termasuk pendidikan, infrastruktur, pensiun), dampak buruk dari teknologi kecerdasan buatan, kemerosotan ekonomi (misalnya resesi,stagnasi) dan inflasi.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai, bila melihat prediksi lima tantangan versi WEF tersebut, semuanya sangat relevan bagi Indonesia 2026–2028 dan saling berkaitan.
“Ini bukan risiko yang berdiri sendiri, tetapi rangkaian masalah yang bisa menekan kualitas pertumbuhan ekonomi jika tidak dikelola dengan baik,” tutur Yusuf kepada Kontan, Minggu (18/1/2026).
Pertama soal pengangguran, khususnya pengangguran muda. Ia mencatat, setiap tahun jutaan anak muda masuk pasar kerja, tetapi tidak semuanya terserap. Banyak yang berpendidikan, tapi tidak sesuai dengan kebutuhan industri, sehingga muncul educated unemployment.
Baca Juga: BKPM, Danantara, dan Kadin Promosikan Investasi RI di WEF Davos 2026
Menurut Yusuf, dampaknya bukan hanya ke pendapatan, tapi juga ke produktivitas, konsumsi, dan stabilitas sosial. Karena itu lanjutnya, pertumbuhan harus diarahkan ke sektor yang benar-benar menyerap tenaga kerja, seperti manufaktur, ekonomi hijau, UMKM, dan industri berbasis teknologi, sambil memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM).
Kedua, pelayanan publik dan perlindungan sosial. Ia menilai, masalah utama ada pada ketidaksinkronan antara pendidikan dan keterbatasan anggaran.
“Pendidikan kita belum sepenuhnya nyambung dengan pasar kerja, sementara ruang fiskal juga harus berbagi dengan banyak program prioritas, termasuk MBG (makan bergizi gratis),” ungkapnya.
Di sisi lain, ia juga menilai, sistem pensiun dan jaminan sosial belum kuat, terutama bagi pekerja informal yang jumlahnya besar. Akibatnya, saat ekonomi terguncang, daya tahan masyarakat rendah dan konsumsi mudah turun.
Baca Juga: Pengangguran Hingga Perlambatan Ekonomi Jadi Tantangan Indonesia pada 2026-2028
Ketiga, dampak kecerdasan buatan. Yusuf berpendapat, AI bisa menaikkan produktivitas, tapi juga berisiko jika literasi digital rendah.
Bahkan menurutnya, di Indonesia, penguasaan informasi belum merata. AI bisa menggeser pekerjaan rutin, menyebarkan disinformasi, bahkan memengaruhi kualitas kognitif publik. Tanpa reskilling dan regulasi yang tepat, teknologi justru memperlebar ketimpangan, bukan memperkuat ekonomi.
Keempat, ancaman kemerosotan ekonomi. Yusuf melihat isiko resesi yang bisa terjadi di Indonesia tetap ada, apalagi jika ekonomi global memburuk karena konflik, suku bunga tinggi, atau pelemahan perdagangan.
“Indonesia masih cukup bergantung pada ekspor dan arus modal. Kalau global melambat, investasi dan lapangan kerja ikut tertekan. Karena itu, ekonomi domestik perlu diperkuat lewat diversifikasi industri dan tidak hanya mengandalkan komoditas,” jelasnya.
Kelima, risiko terjadinya inflasi, terutama dari harga pangan. Ysuuf mencatat, Indonesia selalu dibayangi instabilitas pangan akibat cuaca, distribusi, dan impor. Inflasi pangan cepat menggerus daya beli dan menekan konsumsi rumah tangga, yang merupakan motor utama pertumbuhan. Stabilitas harga tidak cukup lewat kebijakan moneter, tapi juga lewat penguatan produksi, logistik, dan cadangan pangan.
Baca Juga: Pengangguran Jadi Risiko Ekonomi Terbesar Indonesia Dua Tahun ke Depan, Ini Faktornya
Alhasil, ia menyimpulkan secara keseluruhan, lima risiko ini bisa menghambat pembangunan ekonomi, terutama dalam jangka panjang. Pengangguran menurunkan produktivitas, perlindungan sosial yang lemah membuat ekonomi rapuh, teknologi tanpa kesiapan SDM menciptakan masalah baru, resesi menekan investasi, dan inflasi menggerus daya beli.
Karena itu, kata Yusufm solusinya harus struktural, mulai menciptakan lapangan kerja produktif, mereformasi pendidikan agar sesuai kebutuhan pasar, memperkuat jaminan sosial termasuk bagi pekerja informal, mengelola AI secara adaptif, mendiversifikasi ekonomi, dan menjaga stabilitas pangan.
“Intinya, Indonesia tidak hanya butuh pertumbuhan yang cepat, tetapi juga pertumbuhan yang berkualitas dan tahan terhadap guncangan,” tandasnya.
Baca Juga: Apindo: Satu Lowongan Kerja Diperebutkan 16 Orang
Selanjutnya: Ekspor Nikel Matte Vale (INCO) Tahun 2026 Masih Fokus untuk Pasar Jepang
Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
