kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.902   155,73   2,71%
  • KOMPAS100 783   23,11   3,04%
  • LQ45 589   20,16   3,54%
  • ISSI 202   4,81   2,44%
  • IDX30 335   12,48   3,87%
  • IDXHIDIV20 413   15,31   3,84%
  • IDX80 88   2,33   2,70%
  • IDXV30 111   2,33   2,15%
  • IDXQ30 108   3,73   3,59%

Waspadai Efek Berantai Kenaikan Pertamax ke Inflasi dan Konsumsi Masyarakat


Rabu, 10 Juni 2026 / 17:41 WIB
Waspadai Efek Berantai Kenaikan Pertamax ke Inflasi dan Konsumsi Masyarakat
ILUSTRASI. Kenaikan harga Pertamax diprediksi memicu pengeluaran ekstra.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 dinilai tidak hanya akan menambah tekanan inflasi, tetapi juga berpotensi menggerus daya beli kelas menengah dan memicu pergeseran konsumsi ke BBM bersubsidi.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede mengatakan, dampak langsung kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi Juni 2026 diperkirakan relatif terbatas, yakni kurang dari 0,1 poin persentase. Meski demikian, efek lanjutan terhadap berbagai sektor ekonomi perlu menjadi perhatian.

"Menurut saya, dampak kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 terhadap inflasi cukup signifikan untuk ukuran BBM nonsubsidi. Dampak langsungnya ke inflasi Juni 2026 diperkirakan sekitar kurang dari 0,1 poin persentase," ujar Josua kepada Kontan, Rabu (10/6/2026).

Baca Juga: Prabowo Jawab Isu 'Sell Indonesia': Banyak Investor Asing Ingin Berinvestasi

Ia menjelaskan, dampak lanjutan berpotensi muncul pada kelompok transportasi, jasa angkutan, transportasi berbasis aplikasi, jasa pengiriman, biaya distribusi barang, hingga harga makanan dan minuman jadi. Tekanan tersebut bahkan dapat merambat ke inflasi inti apabila pelaku usaha mulai menyesuaikan harga untuk menjaga margin usaha.

Meski begitu, Josua bilang, besarnya dampak inflasi akan sangat bergantung pada respons konsumen setelah kenaikan harga Pertamax. Jika mayoritas pengguna tetap menggunakan Pertamax, tekanan inflasi langsung akan lebih besar. 

Sebaliknya, apabila banyak konsumen beralih ke Pertalite, tekanan inflasi langsung bisa lebih rendah tetapi memunculkan persoalan baru berupa distorsi konsumsi dan meningkatnya tekanan terhadap kuota BBM bersubsidi.

"Selisih harga Pertalite dan Pertamax yang melebar tajam dari sekitar Rp 2.300 menjadi Rp 6.250 per liter dapat mendorong peralihan konsumsi ke BBM subsidi. Ini berisiko membuat subsidi menjadi kurang tepat sasaran," katanya.

Dari sisi daya beli, Josua menilai kelompok kelas menengah menjadi pihak yang paling merasakan dampak kenaikan harga Pertamax. Rumah tangga pengguna kendaraan pribadi yang selama ini mengonsumsi BBM non-subsidi akan menghadapi kenaikan pengeluaran yang cukup besar sehingga berpotensi mengurangi belanja untuk kebutuhan sekunder.

"Tambahan biaya per liter yang besar akan mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan sekunder seperti rekreasi, makan di luar, belanja barang tahan lama, dan sebagian konsumsi non-pokok," ujarnya.

Baca Juga: Inflasi Juni Berpotensi Tembus 4% Imbas Kenaikan Pertamax dan Harga Pangan

Menurut Josua, tekanan tersebut terjadi di saat masyarakat juga menghadapi kenaikan biaya pendidikan, harga pangan, serta meningkatnya tekanan bunga kredit setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan.

Ia menambahkan, secara agregat dampak terhadap konsumsi rumah tangga memang tidak akan langsung besar. Namun, bagi kelas menengah perkotaan yang selama ini menjadi penopang konsumsi jasa, ritel modern, otomotif, makanan dan minuman, serta sektor rekreasi, tekanan tersebut dapat mendorong perilaku konsumsi yang lebih defensif.

"Jika tekanan harga energi dan pangan berlangsung bersamaan, kelas menengah akan cenderung menahan belanja, memperpendek perjalanan, mengurangi konsumsi nonpokok, atau berpindah ke barang dan jasa yang lebih murah," jelasnya.

Untuk meminimalkan dampak tersebut, Josua menyebut agar pemerintah memperkuat pengawasan terhadap harga pangan, memastikan distribusi BBM subsidi lebih tepat sasaran agar lonjakan pengguna Pertalite tidak membebani kuota dan APBN, serta memperjelas komunikasi bahwa BBM subsidi tetap diperuntukkan bagi kelompok yang berhak.

Selain itu, apabila tekanan terhadap daya beli kelas menengah semakin nyata, pemerintah disarankan mengarahkan kebijakan pendukung pada sektor transportasi umum, pangan, dan pendidikan, ketimbang memberikan subsidi harga yang bersifat luas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×