kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.876   93,00   0,52%
  • IDX 6.250   -115,33   -1,81%
  • KOMPAS100 818   -17,15   -2,05%
  • LQ45 622   -11,78   -1,86%
  • ISSI 217   -4,04   -1,83%
  • IDX30 350   -6,20   -1,74%
  • IDXHIDIV20 427   -7,18   -1,66%
  • IDX80 94   -1,84   -1,93%
  • IDXV30 118   -1,72   -1,44%
  • IDXQ30 111   -1,72   -1,52%

Indeks Penjualan Riil Juli 2026 Cerminkan Daya Beli Mulai Kehilangan Momentum


Selasa, 11 Agustus 2026 / 14:21 WIB
Indeks Penjualan Riil Juli 2026 Cerminkan Daya Beli Mulai Kehilangan Momentum
ILUSTRASI. Indeks Penjualan Riil-Suasana pusat belanja Thamrin City di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya beli masyarakat pada kuartal III 2026 diperkirakan masih terjaga, meski mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan momentum. Kondisi ini tercermin dari penjualan eceran yang masih tumbuh secara tahunan pada Juli 2026, tetapi mengalami kontraksi secara bulanan.

Penjualan eceran tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 yang diperkirakan tumbuh sebesar 0,9%  year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sehingga mencapai level 224,4. Sedangkan secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan menurun sebesar 0,3% month to month (mtm).

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan, penurunan penjualan eceran secara bulanan pada Juli merupakan bagian dari normalisasi konsumsi setelah momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan libur sekolah.

"Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga menurun. Kombinasi ini menunjukkan konsumsi belum masuk fase kontraksi, tetapi rumah tangga mulai lebih berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya," kata Rizal kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Keyakinan Konsumen Turun, Lampu Kuning bagi Pelemahan Daya Beli

IKK Juli 2026 tercatat 116,8, turun dari 117,8 pada Juni 2026. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan keyakinan konsumen yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan fundamental daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat. Konsumsi masyarakat saat ini masih cukup bergantung pada momentum atau event tertentu, seperti Lebaran, libur sekolah, HUT RI, hingga Natal dan Tahun Baru.

Ketika momentum tersebut berakhir, konsumsi kembali mengalami normalisasi. Hal ini menjadi indikasi bahwa penguatan konsumsi belum berlangsung secara berkelanjutan.

Rizal menilai, terdapat sejumlah faktor yang membuat rumah tangga semakin berhati-hati dalam membelanjakan pendapatannya. Di antaranya adalah tekanan biaya hidup, beban cicilan, kualitas penciptaan lapangan kerja, serta pertumbuhan pendapatan yang belum merata.

Kondisi tersebut membuat sebagian rumah tangga cenderung menahan konsumsi yang bersifat nonprimer. Dengan demikian, meski konsumsi masyarakat masih tumbuh, ruang untuk meningkatkan belanja menjadi lebih terbatas.

"Jika pelemahan keyakinan konsumen berlanjut dan konsumsi hanya bertumpu pada faktor musiman, maka pertumbuhan ekonomi akan lebih sulit memperoleh dorongan kuat dari permintaan domestik," ujar Rizal.

Rizal memperkirakan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi pada kuartal III 2026. Namun, akselerasinya berpotensi terbatas apabila daya beli tidak mendapat penguatan yang lebih fundamental.

Terlebih, penjualan eceran pada September 2026 juga diproyeksikan kembali mengalami penurunan sebelum kembali meningkat pada Desember seiring dengan masuknya momentum Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga: Pelemahan Daya Beli Bisa Ganjal Kenaikan Tax Ratio di 2026

Pola tersebut menurutnya, menunjukkan konsumsi masyarakat masih memiliki karakter musiman yang kuat. Artinya, kenaikan konsumsi belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kemampuan masyarakat dalam membelanjakan pendapatannya secara konsisten.

Karena itu, menurut Rizal, pemerintah perlu menjaga daya beli bukan hanya melalui pengendalian inflasi, tetapi juga dengan memperkuat pendapatan riil masyarakat dan penciptaan lapangan kerja produktif.

Stimulus juga dinilai perlu diarahkan kepada kelompok masyarakat yang memiliki kecenderungan konsumsi tinggi. Dengan begitu, kebijakan yang diberikan dapat mendorong konsumsi secara lebih berkelanjutan dan tidak hanya menghasilkan lonjakan belanja pada momentum tertentu.

Dengan kondisi tersebut, Rizal menilai konsumsi rumah tangga masih berpeluang menopang ekonomi kuartal III 2026, tetapi kontribusinya terhadap akselerasi pertumbuhan diperkirakan tidak akan sekuat ketika momentum konsumsi sedang tinggi.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Semester II Diproyeksi Melambat, Dibayangi Faktor Daya Beli

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×