Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Meski ada sejumlah faktor pemicu yang menyulut inflasi, namun ekonom memperkirakan inflasi April masih relatif terkendali, dan belum akan melonjak signifikan.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memprediksi inflasi April 2026 masih relatif terkendali di kisaran 2,40%-2,60% secara tahunan (year on year/yoy), dan secara bulanan (month to month/mtm) ke kisaran 0,2%-0,3% yang dinilai masih moderat.
Yusuf menjelaskan, sebelumnya realisasi inflasi Maret 2026 yang tercatat sebesar 3,48% yoy perlu dicermati lebih dalam karena terdorong efek basis rendah dari diskon listrik pada tahun sebelumnya. Jika faktor tersebut dikeluarkan, inflasi riil berada di kisaran 2,5%.
“Artinya, kita masuk April dengan kondisi inflasi yang sebenarnya relatif terkendali, tapi tidak longgar,” ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Baca Juga: Ekonom Memperkirakan Inflasi April Menyentuh 5%, Waspada Efek Berantai
Pada April, ia melihat adanya perubahan dari sisi energi, terutama kenaikan harga BBM non-subsidi dan LPG 12 kg yang terjadi pada pertengahan bulan. Namun, dampaknya terhadap inflasi April dinilai masih terbatas.
Menurutnya, hal ini disebabkan waktu kenaikan yang baru berlaku di paruh kedua bulan serta pengguna BBM non-subsidi yang bukan mayoritas rumah tangga. Dengan demikian, pengaruhnya terhadap inflasi tahunan April tidak akan langsung signifikan.
Karena itu, Yusuf memperkirakan inflasi April tidak akan melonjak signifikan. Ia memproyeksikan inflasi berada di kisaran 2,40% hingga 2,60% (yoy), dengan inflasi bulanan (month to month/mtm) yang juga masih moderat di kisaran 0,2%–0,3% seiring berakhirnya momentum Lebaran.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan adanya tekanan inflasi yang belum sepenuhnya tercermin pada April. Kenaikan harga LPG 12 kg, misalnya, saat ini masih banyak diserap oleh pelaku usaha seperti UMKM dengan menekan margin keuntungan.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak akan bertahan lama. Ketika margin semakin tertekan, pelaku usaha berpotensi mulai menaikkan harga ke konsumen dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Hal serupa juga berlaku untuk kenaikan BBM non-subsidi dan bahan baku impor, yang dampaknya terhadap harga makanan olahan, logistik, dan barang konsumsi terjadi secara bertahap.
“Ini yang sering tidak tertangkap kalau kita hanya melihat angka inflasi bulanan,” jelasnya.
Baca Juga: INDEF: Inflasi April Berpotensi Meningkat ke Kisaran 3,8%
Ke depan, Yusuf melihat tekanan inflasi berpotensi meningkat pada pertengahan tahun. Dalam skenario saat ini, dengan harga minyak yang masih tinggi dan nilai tukar rupiah yang belum sepenuhnya stabil, inflasi dapat bergerak ke kisaran 2,8% hingga sedikit di atas 3% pada Mei–Juni, sebelum kembali stabil di akhir tahun.
Jika kondisi global memburuk, seperti kenaikan harga minyak yang lebih tinggi atau pelemahan rupiah yang lebih dalam, inflasi berpotensi terdorong ke atas 3%, mendekati batas atas target Bank Indonesia.
Ia menambahkan, kenaikan inflasi tersebut akan berdampak pada ruang kebijakan moneter. Jika inflasi terus bergerak naik, Bank Indonesia akan semakin terbatas untuk menurunkan suku bunga, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi biaya kredit, pasar obligasi, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













