kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Inflasi April 2026 Melandai, Ancaman Bergeser ke Energi dan Biaya Produksi


Senin, 04 Mei 2026 / 19:36 WIB
Inflasi April 2026 Melandai, Ancaman Bergeser ke Energi dan Biaya Produksi
ILUSTRASI. Suasana jual beli kebutuhan pangan di pasar tradisional Senen Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi pada April 2026 yang melandai dinilai mencerminkan meredanya tekanan harga pasca-Lebaran. Namun, risiko inflasi ke depan mulai bergeser dari faktor pangan ke tekanan biaya energi dan produsen.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai inflasi April yang tercatat 0,13% secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,42% secara tahunan (year on year/yoy) menunjukkan normalisasi harga berjalan cepat setelah Ramadan dan Idulfitri.

“Penurunan ini terutama didorong oleh normalisasi harga pangan setelah Ramadan dan Lebaran, serta turunnya harga emas yang sebelumnya sempat menjadi pendorong inflasi inti,” ujarnya kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Baca Juga: Ekonom Memperkirakan Inflasi April Menyentuh 5%, Waspada Efek Berantai

Ia menjelaskan, inflasi tahunan yang turun dari 3,48% pada Maret menjadi 2,42% pada April juga dipengaruhi oleh hilangnya efek basis rendah dari diskon tarif listrik pada tahun lalu, selain faktor normalisasi harga konsumen.

Di sisi lain, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada April belum memberikan dampak signifikan terhadap inflasi umum. Hal ini karena kenaikan tersebut masih tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas pangan dan emas.

Untuk Mei 2026, Josua memperkirakan inflasi masih akan terkendali, meskipun tidak akan turun sedalam April. Secara musiman, harga pangan cenderung stabil pasca-Lebaran, terutama jika pasokan komoditas seperti daging ayam, telur, cabai, bawang, dan beras tetap terjaga.

“Inflasi Mei berpotensi berada di kisaran 0,10% hingga 0,25% secara bulanan, sementara inflasi tahunan diperkirakan tetap dalam rentang sasaran Bank Indonesia sekitar 2,90%–3,05%,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko yang dapat mendorong inflasi, seperti kenaikan harga pangan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga energi global.

Baca Juga: Ekonom Prediksi Inflasi April Tak Melonjak, Meski Harga BBM dan LPG Non Subsidi Naik

Menurutnya, kenaikan BBM nonsubsidi perlu diwaspadai karena dapat memicu kenaikan biaya secara tidak langsung, terutama melalui jalur distribusi dan logistik.

“Dampaknya memang tidak langsung besar ke konsumen, tetapi bisa mendorong kenaikan biaya produksi dan harga jual secara bertahap,” katanya.

Indikasi tekanan biaya ini mulai terlihat di sektor industri. Ia mencatat, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur pada April 2026 menunjukkan pelemahan, dengan penurunan output tercepat sejak Mei 2025, serta kenaikan biaya input tertinggi dalam empat tahun terakhir.

Dengan kondisi tersebut, inflasi konsumen yang rendah saat ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan tekanan harga di tingkat produsen.

Baca Juga: Inflasi April 2026 Melandai Pasca-Lebaran, Risiko Harga Masih Membayangi

“Kesimpulannya, inflasi Mei masih cenderung terkendali, tetapi risikonya bergeser dari pangan pasca-Lebaran menuju biaya energi, kurs, dan tekanan produsen,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×