kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.710.000   20.000   0,74%
  • USD/IDR 17.853   70,00   0,39%
  • IDX 6.310   -55,02   -0,86%
  • KOMPAS100 828   -7,52   -0,90%
  • LQ45 629   -5,53   -0,87%
  • ISSI 219   -1,80   -0,82%
  • IDX30 353   -3,01   -0,85%
  • IDXHIDIV20 430   -3,80   -0,88%
  • IDX80 95   -0,82   -0,85%
  • IDXV30 119   -0,84   -0,70%
  • IDXQ30 112   -0,88   -0,78%

In This Economy, Kelas Menengah Makin Sulit Punya Rumah


Selasa, 11 Agustus 2026 / 12:48 WIB
In This Economy, Kelas Menengah Makin Sulit Punya Rumah
ILUSTRASI. Walau pertumbuhan ekonomi capai 5,29%, persoalan utama perumahan yang dihadapi kelas menengah saat ini adalah keterjangkauan. (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. In this economy! Memiliki rumah kini semakin terasa seperti kemewahan bagi masyarakat kelas menengah. 

Bukan semata karena harga rumah melonjak tinggi, tetapi karena pendapatan harus dibagi untuk semakin banyak kebutuhan, mulai dari cicilan, biaya sekolah, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat mengatakan, persoalan utama perumahan yang dihadapi kelas menengah saat ini adalah keterjangkauan.

"Masalah perumahan bukan semata-mata lonjakan harga. Masalah utamanya adalah keterjangkauan," kata Achmad dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29%, Kelas Menengah Justru Makin Terhimpit

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia, harga rumah primer pada kuartal II-2026 hanya tumbuh 0,69% secara tahunan. Namun, penjualan properti residensial masih mengalami kontraksi 2,36%.

Artinya, meski kenaikan harga rumah relatif terbatas, masyarakat belum cukup kuat untuk meningkatkan pembelian hunian.

Terlebih, sebanyak 70,05% pembelian rumah primer dilakukan melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Ketergantungan terhadap KPR membuat kemampuan memiliki rumah sangat bergantung pada kemampuan rumah tangga membayar cicilan dalam jangka panjang.

Masalahnya, KPR bukan satu-satunya cicilan yang harus ditanggung keluarga.

"Ketika pendapatan tidak meningkat secepat kebutuhan, keluarga bukan lagi memilih antara kebutuhan dan keinginan. Mereka dipaksa memilih di antara kebutuhan yang sama-sama penting," katanya.

Tekanan tersebut tercermin dari pola penggunaan pendapatan masyarakat. Dalam Survei Konsumen Bank Indonesia Juli 2026, rata-rata 72,7% pendapatan responden digunakan untuk konsumsi.

Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan meningkat dari 10% menjadi 10,5%. Sebaliknya, porsi pendapatan yang disimpan turun dari 17% menjadi 16,8%.

In this economy, ketika ruang keuangan rumah tangga semakin sempit, membeli rumah dengan KPR berpotensi menjadi beban apabila cicilan menyerap terlalu besar dari pendapatan.

Keluarga tidak hanya harus membayar angsuran rumah, tetapi juga biaya pendidikan anak, transportasi, kesehatan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: DJP Pastikan Tak Ada Pajak atas Kepemilikan Barang Pribadi pada 2027

Kondisi tersebut akhirnya membuat sebagian masyarakat memilih menunda membeli rumah, memperpanjang masa sewa, atau mencari hunian yang lebih murah meski lokasinya semakin jauh dari tempat kerja.

Menurut Achmad, menyewa rumah bukan berarti gagal secara finansial. Dalam kondisi tertentu, menyewa hunian yang terjangkau dan dekat dengan tempat kerja justru lebih rasional dibandingkan memaksakan KPR dengan cicilan yang menggerus kemampuan finansial keluarga.

"Kepemilikan rumah tidak boleh dipertahankan sebagai simbol status apabila akibatnya keluarga tidak lagi memiliki dana darurat dan harus berutang untuk kebutuhan sekolah," jelasnya.

Persoalan ini semakin berat karena jumlah masyarakat kelas menengah juga terus menyusut.

Data BPS menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang atau 21,45% penduduk pada 2019 menjadi 47,85 juta orang atau 17,13% pada 2024.

Sementara itu, kelompok yang berada pada kategori menuju kelas menengah justru semakin besar.

Menurut Achmad, kondisi tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak keluarga berada dalam posisi rentan terhadap guncangan ekonomi.

Baca Juga: Sosok dan Rekam Jejak Destry Damayanti, Jadi Calon Tunggal Gubernur BI

In this economy, memiliki rumah bukan lagi sekadar soal apakah harga properti naik atau turun. Bagi kelas menengah, pertanyaan yang lebih penting adalah apakah setelah membayar KPR masih ada cukup uang untuk sekolah, kesehatan, kebutuhan sehari-hari, dan dana darurat.

Oleh karena itu, pemerintah dinilai perlu melihat persoalan perumahan dari sisi keterjangkauan masyarakat.

Achmad mendorong pemerintah menyediakan rumah sewa terjangkau di dekat pusat pekerjaan serta memperkuat skema KPR rumah pertama dengan bunga tetap dan transparan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×