kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.968.000   52.000   1,78%
  • USD/IDR 16.745   -46,00   -0,27%
  • IDX 8.501   -479,42   -5,34%
  • KOMPAS100 1.176   -63,61   -5,13%
  • LQ45 834   -41,94   -4,79%
  • ISSI 309   -21,75   -6,58%
  • IDX30 430   -14,61   -3,29%
  • IDXHIDIV20 505   -14,69   -2,83%
  • IDX80 130   -7,44   -5,40%
  • IDXV30 140   -3,99   -2,77%
  • IDXQ30 138   -4,26   -2,99%

Virus Nipah Mengancam? Kemenkes Beberkan 7 Cara Lindungi Diri dari Infeksi


Rabu, 28 Januari 2026 / 04:28 WIB
Virus Nipah Mengancam? Kemenkes Beberkan 7 Cara Lindungi Diri dari Infeksi
ILUSTRASI. Kemenkes RI telah mengeluarkan 7 panduan konkret untuk cegah virus Nipah. Mulai dari konsumsi nira hingga kontak hewan. (dok./immuno wars)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Wabah virus nipah (NiV) yang menjangkit lima kasus di India memicu kekhawatiran publik. Infeksi virus ini diketahui memiliki tingkat kematian yang tinggi, pada angka 40–75 persen menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Situasi tersebut memicu sejumlah negara meningkatkan kewaspadaan, salah satunya Indonesia.

Meski belum ditemukan kasus virus nipah di tanah air hingga pertengahan Januari 2026, Kementerian Kesehatan Indonesia memutuskan untuk memperketat pemantauan penyebaran virus nipah, sebagaimana dilansir dari Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Pengawasan dilakukan secara aktif lewat sistem survelians penyakit emerging, dilakukan terutama pada pintu masuk negara dan fasilitas kesehatan.

Lantas, bagaimana masyarakat Indonesia harus bersikap atas potensi penyebaran wabah virus nipah ini?

Dokter imbau jangan gegabah dan jangan panik

Dalam situasi semacam ini, Spesialis Patologi Klinik dan Imunologi Klinik Prof. Dr. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), PhD, FISQua, CHAE mengimbau supaya masyarakat tidak bersikap gegabah. Namun juga tidak larut-larut dalam kepanikan.

"Kalau ada hal seperti ini, kita jangan gegabah tapi juga tidak perlu resah. Cari informasi dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan dan lakukan upaya untuk bertanggung jawab," beber Tonang saat dihubungi Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Baca Juga: Guru Honorer: Rp 400.000 Masuk Rekening, Cek Tanggal Cairnya!

Upaya bertanggung jawab yang dimaksud Tonang dimulai dari kesadaran individu dalam meminimalisir risiko penularan virus.

Pada prinsipnya hampir mirip dengan upaya pencegahan virus lainnya.

"Ketika kita merasa sakit, ya kita harus menjaga dari risiko. Misalnya, memakai masker dan sebagainya kalau kita dalam posisi sakit," kata Tonang.

Sementara itu, apabila sedang berada di sekitar orang sakit, maka jaga jarak dan menghindari kontak erat menjadi langkah penting pencegahan.

"Kalau melihat orang yang sedang sakit, ya kita menghindari kontak dan menjaga jarak dahulu," tambah Tonang.

Tonang menegaskan hal ini berlaku juga buat semua bukan hanya untuk nipah.

Bukan virus baru

Virus nipah bukan merupakan virus yang benar-benar baru menetas ke permukaan. Tonang menjelaskan, virus nipah tergolong dalam kelompok penyakit zoonotik, yakni penyakit yang berasal dari hewan dan berpotensi menular ke manusia.

Lebih lanjut, Tonang menambahkan risiko penularan tersebut memang ada, meskipun tidak selalu terjadi.

"Virus nipah itu termasuk dalam golongan zoonotik. Jadi memang, penyakit pada hewan yang memiliki risiko yang dapat menular ke manusia. Risiko itu ada, tapi belum tentu terjadi," ucapnya.

Virus nipah pertama kali terdeteksi sekitar tahun 1998–1999 di Malaysia.

Baca Juga: KUA Kini: Bukan Cuma Nikah, 48 Layanan Baru Siap Bantu Masyarakat!

"Ditemukan pertama itu di dekat sungai Nipah, makanya disebut juga dengan virus Nipah. Ada virus di sebuah peternakan babi di dekat sungai tersebut yang mewabah waktu itu," ucap Tonang.

"Maka beberapa negara memang mengambil sikap sangat hati-hati dan sikap yang tegas, karena memang saat itu kalau tidak salah ada 276 yang terpapar dan 106 meninggal," tambahnya.

Dari angka tersebut, maka sempat muncul anggapan bahwa virus ini akan sangat berisiko tinggi.

Apakah berisiko menimbulkan pandemi?

Kendati demikian, Tonang menjelaskan bahwa secara epidemiologis peluang virus nipah berkembang menjadi pandemi dinilai kecil.

Mekanisme penularannya pun berbeda dengan Covid-19.

"Kenapa? Karena berbeda dengan Covid ya, Penularan nipah memerlukan suatu kontak yang sangat erat," tuturnya.

"Penularannya mungkin melalui cairan tubuh seperti droplet, urin, atau darah. Sementara Covid penularannya dari udara kan bisa. Maka bisa dikatakan ini bukan mengarah ke pandemi," lanjut Tonang.

Tetap waspada

Kendati demikian, Tonang menekankan bawah kewaspadaan tetap diperlukan. Dia mengungkapkan masyarakat perlu hati-hati, tapi tidak perlu sampai menganggap virus ini sebagai "Covid baru".

"Virus ini sudah ada sejak 1998–1999. Jadi bukan suatu virus baru saja ketemu," sebut Tonang.

Beda situasinya dengan Covid yang meluas di beberapa benua, kasusnya juga sangat tinggi.

"Sementara nipah masih bersifat lokal. Di lokal kematian itu tinggi, tapi kita belum bisa menyimpulkan menjadi suatu yang sifatnya pandemi. Sejauh ini belum ada tanda ke arah sana," kata Tonang.

Apakah Indonesia perlu menyaring pelancong juga?

Hingga sekarang ini, otoritas Indonesia masih sebatas melakukan pemantauan melalui sistem surveilians penyakit infeksi emerging. Di sisi lain, Thailand sudah mulai bergerak menyaring pelancong yang datang dari India.

Pemeriksaan tersebut dilakukan kepada penumpang pesawat di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang pada Minggu (25/1/2026). Dalam proses identifikasi ini, Thailand juga menerbitkan "Health Beware Card" bagi mereka yang datang dari wilayah berisiko.

Baca Juga: Menkeu Rombak Bea Cukai: Pejabat Muda Gantikan Posisi Strategis?

Tonang menilai apa yang dilakukan pemerintah Thailand merupakan bentuk kehati-hatian yang wajar.

"Harus diakui memang, sejak dulu adanya flu burung, flu angsa, flu babi, dan sebagainya itu sangat berkaitan dengan pola kebiasaan kita yang melakukan domestikasi hewan ternak," jelas Tonang.

Manusia yang hidup berdampingan dengan hewan memiliki risiko yang lebih tinggi.

"Di negara yang model peternakannya terpisah, maka risikonya rendah. Tapi sebagian negara menyadari, risiko domestikasi hewan ternak tinggi, maka mereka mengharuskan (pencegahan) ekstra," tuturnya.

Di Indonesia sendiri, pola peternakan cukup beragam. Ada wilayah yang masih memiliki interaksi erat antara manusia dan hewan. Tapi ada pula yang sudah terpisah dengan baik.

"Kalau pendapat saya saat ini, setiap ada pendatang dengan suatu tanda-tanda infeksi, seperti demam, radang, atau demam, kita harus waspada. Jadi bukan hanya untuk virus nipah, tetapi untuk semua," jelas Tonang.

Tata laksana pencegahan virus nipah menurut Kemenkes RI

Dalam kondisi ini, Kemenkes RI mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk tetap tenang terhadap potensi risiko virus nipah. Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah:

  1. Tidak mengonsumsi nira atau air aren yang diambil langsung dari pohonnya. Hal ini dikarenakan kelelawar berpotensi mengontaminasi sadapan nira pada malam hari, sehingga nira perlu dimasak sebelum dikonsumsi.
  2. Mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dikonsumsi, serta membuang buah yang menunjukkan tanda gigitan atau kontaminasi kelelawar.
  3. Mengonsumsi daging ternak yang dimasak hingga benar-benar matang dan menghindari konsumsi daging mentah atau setengah matang.
  4. Menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memakai masker apabila mengalami gejala, terutama bagi kelompok rentan.
  5. Menghindari kontak langsung dengan hewan ternak yang berpotensi terinfeksi virus Nipah, seperti babi dan kuda, dan menggunakan alat pelindung diri (APD) jika kontak tidak dapat dihindari.
  6. Menggunakan sarung tangan dan pelindung diri bagi petugas pemotongan hewan saat menyembelih atau memotong hewan yang diduga terinfeksi virus Nipah, serta memastikan hewan terinfeksi tidak dikonsumsi.
  7. Menerapkan pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) secara ketat bagi tenaga kesehatan, keluarga yang merawat pasien, serta petugas laboratorium yang menangani spesimen pasien terinfeksi.

Tonton: BGN Tegaskan Tidak Ada Pemaksaan Jika Ada Sekolah Tolak MBG

Untuk pencegahannya, WHO juga menekankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Penguatan surveilans juga menjadi kunci mencegah masuk dan penyebaran virus Nipah ke Indonesia.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul "Haruskah Indonesia Waspada Virus Nipah? Dokter: Waspada Perlu, Panik Jangan"

Selanjutnya: Fondasi Sistem Keuangan Indonesia Masih Rapuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×