Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Kendati demikian, Tonang menjelaskan bahwa secara epidemiologis peluang virus nipah berkembang menjadi pandemi dinilai kecil.
Mekanisme penularannya pun berbeda dengan Covid-19.
"Kenapa? Karena berbeda dengan Covid ya, Penularan nipah memerlukan suatu kontak yang sangat erat," tuturnya.
"Penularannya mungkin melalui cairan tubuh seperti droplet, urin, atau darah. Sementara Covid penularannya dari udara kan bisa. Maka bisa dikatakan ini bukan mengarah ke pandemi," lanjut Tonang.
Tetap waspada
Kendati demikian, Tonang menekankan bawah kewaspadaan tetap diperlukan. Dia mengungkapkan masyarakat perlu hati-hati, tapi tidak perlu sampai menganggap virus ini sebagai "Covid baru".
"Virus ini sudah ada sejak 1998–1999. Jadi bukan suatu virus baru saja ketemu," sebut Tonang.
Beda situasinya dengan Covid yang meluas di beberapa benua, kasusnya juga sangat tinggi.
"Sementara nipah masih bersifat lokal. Di lokal kematian itu tinggi, tapi kita belum bisa menyimpulkan menjadi suatu yang sifatnya pandemi. Sejauh ini belum ada tanda ke arah sana," kata Tonang.
Apakah Indonesia perlu menyaring pelancong juga?
Hingga sekarang ini, otoritas Indonesia masih sebatas melakukan pemantauan melalui sistem surveilians penyakit infeksi emerging. Di sisi lain, Thailand sudah mulai bergerak menyaring pelancong yang datang dari India.
Pemeriksaan tersebut dilakukan kepada penumpang pesawat di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang pada Minggu (25/1/2026). Dalam proses identifikasi ini, Thailand juga menerbitkan "Health Beware Card" bagi mereka yang datang dari wilayah berisiko.
Baca Juga: Menkeu Rombak Bea Cukai: Pejabat Muda Gantikan Posisi Strategis?
Tonang menilai apa yang dilakukan pemerintah Thailand merupakan bentuk kehati-hatian yang wajar.
"Harus diakui memang, sejak dulu adanya flu burung, flu angsa, flu babi, dan sebagainya itu sangat berkaitan dengan pola kebiasaan kita yang melakukan domestikasi hewan ternak," jelas Tonang.
Manusia yang hidup berdampingan dengan hewan memiliki risiko yang lebih tinggi.
"Di negara yang model peternakannya terpisah, maka risikonya rendah. Tapi sebagian negara menyadari, risiko domestikasi hewan ternak tinggi, maka mereka mengharuskan (pencegahan) ekstra," tuturnya.
Di Indonesia sendiri, pola peternakan cukup beragam. Ada wilayah yang masih memiliki interaksi erat antara manusia dan hewan. Tapi ada pula yang sudah terpisah dengan baik.
"Kalau pendapat saya saat ini, setiap ada pendatang dengan suatu tanda-tanda infeksi, seperti demam, radang, atau demam, kita harus waspada. Jadi bukan hanya untuk virus nipah, tetapi untuk semua," jelas Tonang.













