kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Sekolah Kejuruan akan diperbaiki


Rabu, 21 September 2016 / 14:13 WIB
Sekolah Kejuruan akan diperbaiki


Reporter: Handoyo, Herlina KD | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Presiden Joko Widodo akhirnya meneken Instruksi Presiden (Inpres) No. 9/ 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Sumber Daya Manusia. Lewat Inpres ini, pemerintah ingin memperkuat sinergi antar-lembaga untuk mendongkrak kualitas dan daya saing sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Berdasarkan keterangan resmi yang dikutip KONTAN dari situs Sekretariat Kabinet Selasa (20/9), instruksi ini ditujukan kepada para menteri Kabinet Kerja, Kepala Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dan para gubernur. Setidaknya ada 11 kementerian/lembaga (K/L) yang mendapat penugasan khusus, antara lain Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Keuangan, dan  Kepala BNSP.

Dalam beleid itu, Presiden menugaskan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk membuat peta jalan pengembangan SMK, menyempurnakan dan menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi sesuai pengguna lulusan, dan meningkatkan kerjasama dengan K/L, pemda, dan dunia usaha. Serta "Membentuk kelompok kerja pengembangan SMK," ujar Presiden.

Guna mendukung upaya peningkatan kualitas SDM ini, Kemdikbud kini tengah menyiapkan kurikulum baru bagi SMK agar tepat sasaran.

Komite Tetap Kadin Indonesia Bidang Industri Logam, Mesin dan Alat Transportasi, Made Dana Tangkas bilang, angkatan kerja di Indonesia masih didominasi lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ke bawah. Alhasil, dengan profil itu, pebisnis kesulitan memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri. "Dengan sinergi dari seluruh pihak, kami berharap industri yang maju dan mandiri bisa diwujudkan," ujarnya beberapa waktu lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×