kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

RI harus lupakan rencana ikut TPP


Jumat, 11 November 2016 / 17:34 WIB


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Adi Wikanto

Jakarta. Staf ahli Wakil Presiden Sofjan Wanandi berharap pemerintah lebih baik fokus untuk memperkuat ekonomi dalam negeri dari pada sibuk mendorong kerjasama dengan negara lain, khususnya Trans Pacific Partnership (TPP).

Sebab, pasca Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat (AS), negara adidaya itu diperkirakan tidak akan jadi bergabung dengan TPP. Dengan alasan untuk lebih eksklusif membangun ekonomi dalam negeri.

Apalagi, mayoritas kursi di parlemen dan kongres AS dikuasai partai Republik, yang mengusung Trump. "TPP enggak akan keluar itu, kita gak usah pikirkan lagi ikut itu," ujar Sofjan, Jumat (11/11) di Jakarta.

Sofjan juga mengatakan, sepertinya Trump akan mengevaluasi semua kerjasama perdagangan baik bilateral ataupun multilateral. Yang paling mungkin direvisi adalah perjanjian kerjasama AS dengan Meksiko, NAFTA.

Setelah itu diperkirakan akan disusul kerjsama dengan negara-negara maju lain seperti China, Jepang dan Korea Selatan. Kebijakan protektif AS ini harus diwaspadai.

Jika AS mengurangi kerjasama dagangnya, maka ada kemungkinan ekspor sejumlah negara yang selama ini ditujukan ke AS akan dialihkan. Ini akan membahayakan industri dalam negeri.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan mempersiapkan diri atas semua dampak yang mungkin terjadi. Diantaranya, mendorong investasi lebih besar dan segera merealisasikan hasil pelaksanaan program tax amnesty.

Namun demikian, berbeda halnya dengan TPP Sofjan menyarankan pemerintah agar tetap melanjutkan pembahasan kerjasama CEPA dengan beberapa pihak, seperti Uni Eropa dan Australia. Selama kerjasama itu tidak terkait dengan AS, maka masih mungkin dilakukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×