kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Program PEN Covid-19 Bebani APBN, Ini Penjelasan Ekonom Indef


Minggu, 16 April 2023 / 23:30 WIB
ILUSTRASI. Wakil Direktur Eksekutif Indef Eko Listiyanto. Ada Pilkada, belum tentu ekonomi 2018 terakselerasi (18/10/2017). Foto: KONTAN/Adinda Mustami


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah telah menghentikan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Covid-19 untuk tahun ini. Imbasnya, pemberian insentif menjadi berkurang.

Terkait hal itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menganggap, program PEN Covid-19 tak seharusnya diterapkan kembali.

Dia pun tak memungkiri pengaruh insentif yang terdapat dalam program tersebut cukup besar untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Sebab, diberikan saat pandemi Covid-19 melanda yang mana pendapatan rata-rata masyarakat turun.

Baca Juga: Meski Program PEN Covid-19 Dihapus, APPBI Harap Daya Beli Masyarakat Tak Terganggu

Menurut Eko, salah satu pertimbangan program PEN Covid-19 dihapus, yakni seiring perekonomian Indonesia yang sudah pulih dan kembali ke pertumbuhan sebesar 5%.

"Kalau terus-menerus diberikan insentif, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berat. Imbasnya, banyak pembangunan produktif, seperti pembuatan jalan hingga pendidikan akan tertunda karena alokasi tersedot ke insentif daya beli," ucap dia kepada Kontan.co.id, Minggu (16/4).

Sementara itu, Eko mengimbau agar insentif yang sifatnya menyasar kelas menengah perlu dibatasi. Sebab, tak sesuai target karena yang seharusnya dibantu oleh negara adalah masyarakat kalangan bawah.

"Daya beli mereka atau kelas menengah itu ada. Buktinya, tabungan mereka tumbuh 8%, tetapi saat ini memang mereka lebih selektif dan irit dalam belanja barang-barang sekunder dan tersier," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×