kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Program PEN Covid-19 Bebani APBN, Ini Penjelasan Ekonom Indef


Minggu, 16 April 2023 / 23:30 WIB
ILUSTRASI. Wakil Direktur Eksekutif Indef Eko Listiyanto. Ada Pilkada, belum tentu ekonomi 2018 terakselerasi (18/10/2017). Foto: KONTAN/Adinda Mustami


Reporter: Ferry Saputra | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah telah menghentikan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Covid-19 untuk tahun ini. Imbasnya, pemberian insentif menjadi berkurang.

Terkait hal itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto menganggap, program PEN Covid-19 tak seharusnya diterapkan kembali.

Dia pun tak memungkiri pengaruh insentif yang terdapat dalam program tersebut cukup besar untuk mendongkrak daya beli masyarakat. Sebab, diberikan saat pandemi Covid-19 melanda yang mana pendapatan rata-rata masyarakat turun.

Baca Juga: Meski Program PEN Covid-19 Dihapus, APPBI Harap Daya Beli Masyarakat Tak Terganggu

Menurut Eko, salah satu pertimbangan program PEN Covid-19 dihapus, yakni seiring perekonomian Indonesia yang sudah pulih dan kembali ke pertumbuhan sebesar 5%.

"Kalau terus-menerus diberikan insentif, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan berat. Imbasnya, banyak pembangunan produktif, seperti pembuatan jalan hingga pendidikan akan tertunda karena alokasi tersedot ke insentif daya beli," ucap dia kepada Kontan.co.id, Minggu (16/4).

Sementara itu, Eko mengimbau agar insentif yang sifatnya menyasar kelas menengah perlu dibatasi. Sebab, tak sesuai target karena yang seharusnya dibantu oleh negara adalah masyarakat kalangan bawah.

"Daya beli mereka atau kelas menengah itu ada. Buktinya, tabungan mereka tumbuh 8%, tetapi saat ini memang mereka lebih selektif dan irit dalam belanja barang-barang sekunder dan tersier," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×