Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan premi risiko Indonesia yang tercermin dari lonjakan credit default swap (CDS) dan masih tingginya yield Surat Berharga Negara (SBN) dinilai belum menutup peluang masuknya arus modal asing ke pasar domestik.
Seiring mulai meredanya tekanan global, investor asing diperkirakan kembali melirik aset-aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Asal tahu saja, premi risiko Indonesia masih berada pada level yang relatif tinggi. Per awal Juli 2026, CDS Indonesia tenor lima tahun mencapai 89,44, naik 29,82% secara year to date (YtD) dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar 69,39. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2022, ketika CDS sempat menyentuh 96,96.
Baca Juga: Tak Cuma PPh 0,5%, Ternyata Ini Target Besar DJP dari Pungutan Pajak Marketplace
Sementara CDS tenor 10 tahun telah mencapai 143,50 atau meningkat 28,32% YtD dibandingkan posisi akhir tahun lalu sebesar 111,83.
Di pasar obligasi, yield SBN juga masih bertahan tinggi. Per 5 Juli 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,153%, sedangkan tenor lima tahun berada di kisaran 7,05%. Tingginya yield mencerminkan investor masih meminta premi risiko lebih besar untuk berinvestasi di surat utang pemerintah Indonesia.
Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN) Myrdal Gunarto mengatakan, kenaikan premi risiko Indonesia lebih banyak dipengaruhi tekanan global dibandingkan pelemahan fundamental domestik secara struktural. Menurut dia, ketika tekanan eksternal mulai berkurang, aliran modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.
"Ke depannya saya melihat emerging market seperti Indonesia akan menjadi target utama investor global sambil mereka melihat perkembangan geopolitik global," ujar Myrdal kepada Kontan, Minggu (5/7/2026).
Ia mengakui sejumlah indikator makroekonomi Indonesia memang menunjukkan tekanan. PMI Manufaktur Indonesia turun ke zona kontraksi di level 46,9. Sementara itu, inflasi Juni 2026 meningkat menjadi 0,44% secara bulanan dari 0,28% pada Mei. Secara tahunan, inflasi juga naik menjadi 3,34% dari sebelumnya 3,08%.
Baca Juga: Kemenkeu Buka Lowongan untuk Posisi Hakim Pengadilan Pajak, Ini Syaratnya
Menurut Myrdal, kenaikan inflasi terjadi baik pada tingkat konsumen maupun produsen. Kondisi tersebut dipicu pelemahan nilai tukar rupiah dan lonjakan harga energi yang mendorong kenaikan biaya transportasi.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia juga mencatat defisit US$ 1,61 miliar setelah sebelumnya menikmati surplus selama 72 bulan berturut-turut. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan dampak dari tingginya harga minyak dunia dan penguatan dolar Amerika Serikat yang meningkatkan nilai impor energi.
"Kalau harga minyak tetap tinggi memang cukup berbahaya. Tetapi sekarang tekanan itu mulai mereda karena harga minyak sudah turun," katanya.
Myrdal menambahkan, harga minyak dunia yang kembali mendekati US$ 70 per barel, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta mulai melambatnya ekonomi Amerika Serikat menjadi faktor yang dapat memperbaiki sentimen terhadap pasar negara berkembang.
Menurutnya, data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan perlambatan akibat dampak inflasi energi. Walaupun tingkat pengangguran masih rendah di level 4,2%, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa ekonomi AS juga mulai merasakan tekanan sehingga berpotensi mendorong investor mencari alternatif investasi di emerging market.
Baca Juga: Bebas Visa Kunjungan RI Dipangkas Jadi 7+1 Negara, Devisa Bisa Naik Rp 36 Triliun
"Situasi global memang masih penuh ketidakpastian. Tetapi dibandingkan beberapa waktu lalu kondisinya sudah jauh lebih baik. Harga minyak turun dan tensi geopolitik juga mulai mereda," ujarnya.
Ia juga menilai reli pasar saham Amerika Serikat yang telah mencetak rekor tertinggi masih berpotensi mengalami koreksi apabila tidak didukung sentimen positif baru. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis perpindahan sebagian dana investor global ke pasar negara berkembang.
Kendati demikian, Myrdal optimistis kondisi tersebut akan berangsur membaik apabila tren penurunan tekanan global terus berlanjut.
"Memang posisi CDS kita masih tinggi, tetapi itu lebih karena tekanan global. Dari sisi domestik kita terbukti cukup tahan banting saat menghadapi gejolak eksternal. Kalau kondisi global terus membaik, akan ada harapan perbaikan di pasar keuangan maupun nilai tukar rupiah," katanya.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih berpeluang menguat menuju kisaran Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat. Di saat yang sama, yield SBN tenor 10 tahun maupun tenor pendek diperkirakan secara bertahap kembali turun ke bawah level 7% seiring meredanya tekanan inflasi global dan harga energi.
"Kalau tekanan inflasi energi terus menurun dan tren inflasi global membaik, yield surat utang pemerintah juga seharusnya mengikuti tren penurunan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














