Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslaini mengatakan, bahwa Presiden Prabowo Subianto meminta Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) segera beroperasi di Jakarta, untuk menangkap potensi investasi dari family office global.
Rosan mengatakan, hal ini dilakukan agar momentum minat investor terhadap Indonesia dapat dimanfaatkan.
"Lokasinya untuk awal ini memang di Jakarta dulu. Kenapa? Karena Bapak Presiden ingin ini semua langsung kerja, ada momentumnya," ujar Rosan kepada awak media usai konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027, Jumat (14/8/2026).
Baca Juga: DSI Prioritaskan Pengawasan Ekspor CPO Hingga Batubara, Rosan: Akan Diperluas
Menurut Rosan, Bali juga disiapkan sebagai lokasi PFII berikutnya. Namun, pembangunan di Bali membutuhkan waktu lebih panjang, sehingga Jakarta menjadi opsi cepat yang dipilih pemerintah.
"Walaupun nanti yang rencana juga di Bali, karena di Bali kan untuk pembangunan akan takes time ya untuk membangun infrastrukturnya, gedungnya, dan yang lain-lainnya," katanya.
Rosan menyebut, Bali memiliki daya tarik tersendiri bagi para investor family office. Selain kerangka hukum yang dapat disiapkan untuk mendukung kegiatan tersebut, kehadiran family office di Bali dinilai berpotensi memberikan dampak terhadap sektor pariwisata.
"Kalau kita bicara dengan para investor ini mereka melihatnya Bali ini mereka sangat tertarik," ujar Rosan.
Menurutnya, para investor family office melihat Bali memiliki daya tarik besar. Selain itu dengan daya beli para investor kaya global tersebut yang cukup besar sehingga Bali diharapkan turut meningkatkan aktivitas ekonomi dan pariwisata.
Sementara itu, terkait potensi dana yang dapat dihimpun, Rosan mengatakan pemerintah masih melakukan penjajakan dengan investor. Saat ini, pembicaraan baru dilakukan dengan family office dari Asia, sementara investor dari Eropa dan Timur Tengah masih akan dijajaki.
Rosan menyebut potensi investor dari Timur Tengah, khususnya Dubai, cukup besar. Pemerintah juga mendapat masukan dari Dubai Financial International Centre (DIFC) mengenai kerangka pengembangan family office.
Baca Juga: Pemerintah Anggarankan Rp 100,1 Triliun untuk Pemulihan Bencana Sumatra hingga 2028
Sebelumnya, Kementerian Keuangan menyebut potensi dana tahap awal yang dapat ditarik melalui skema tersebut mencapai sekitar Rp 500 triliun. Namun menurut Rosan, belum ada hitungan terkait potensi investasi dari PFII, meski begitu Ia melihat ada potensi terutama berasal dari family office.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
