Reporter: Elisabeth Adventa | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danareksa Research Institute (DRI) merilis riset tentang kondisi pasar keuangan dalam negeri. Hasil riset DRI menilai pasar keuangan dalam negeri masih akan digerakkan sentimen eksternal, yakni kecamuk perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, kenaikan harga komoditas safe haven, serta keputusan bank sentral AS (Federal Reserve) soal suku bunga.
Head of DRI Moekti Prasetiani memprediksi perang dagang AS - China masih akan terus berlanjut. Sejak awal September lalu, AS menaikkan tarif impor sebanyak 15% untuk barang-barang China dengan total nilai US$ 112 miliar, seperti alas kaki, tekstil dan produk elektronik.
Baca Juga: Pembicaraan tingkat deputi perdagangan AS dan China akan digelar Kamis pekan ini
Sebagai balasan, China kemudian mengenakan tarif impor 5% - 25% untuk mobil dan suku cadang, kedelai dan lainnya yang masuk dari AS.
Dalam keterangan tertulis yang dirilis DRI, Moekti menjelaskan dalam kaitannya selama masa kampanye, Presiden AS, Donald Trump selalu mengedepankan isu nasionalisme.
Trump mengungkapkan bahwa China yang membuat ekonomi AS memburuk. Dengan adanya peningkatan tarif impor produk China, maka pendapatan AS dipercaya dapat meningkat. Sehingga kemudian digunakan untuk subsidi petani kedelai dan gandum.
Langkah ini diambil sebagai kompensasi atas dihentikannya impor produk pertanian AS ke China.
"Perang dagang AS-China ini menyebabkan melambatnya perekonomian dunia, namun tidak akan menjadikan resesi global, sebagaimana juga diutarakan beberapa ekonom global. Pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II tahun 2019 mengalami penurunan dan merupakan yang terendah dalam 27 tahun terakhir," jelas Moekti dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9).
Ia lanjut menjelaskan, stimulus yang diberikan pemerintah China berhasil mempertahankan output retail sales dan investasi. Sementara itu, Consumer (dan Business) Confidence Index di AS yang erat kaitannya dengan saham dan ekonomi mengalami penurunan pada Juli 2019 lalu.
Menurut Moekti, di sisi lain, pelaku pasar juga perlu mencermati harga komoditas yang mulai naik. Selain batubara dan tembaga, semua komoditas termasuk emas, minyak sawit (CPO) dan karet sudah mengalami pemulihan sejak Juli 2019.
Khususnya emas yang bersama US Treasury (surat utang AS) dan Japan Treasury (surat utang Jepang) yang merupakan instrument safe haven di keuangan global.
Baca Juga: Bunga paling tinggi 7%, silakan timbang penawaran bunga deposito bank-bank ini
Harga emas dunia saat ini masih berada di rentang perdagangan US$ 1.503 per troy ounce yang terus meningkat di tengah ketidakpastian global. Naiknya harga emas dunia ini pun mendorong harga emas dalam negeri ke level tertinggi, yakni Rp 726.000/gram pada 4 September lalu.
Hal ini juga berdampak pada inflasi Agustus 2019 yang dipengaruhi oleh meningkatnya harga emas dan perhiasan.
Selain itu, harga minyak global terkerek naik akhir pekan lalu, setelah adanya serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, pada Sabtu (14/9) lalu. Serangan ini menyebabkan output produksi hariannya terpangkas hingga 5,7 juta barel, lebih dari setengah produksi harian Arab Saudi.
"Harga minyak diperkirakan berpotensi naik hingga US$ 10 per barel, meski dampaknya bergantung pada kemampuan normalisasi output produksi. Sampai awal minggu ini, Arab Saudi menyatakan dapat menormalisasi output yang hilang sebesar 2 juta barel," jelas Moekti.
Berdasarkan asumsi APBN, setiap kenaikan harga minyak mentah dunia sebesar US$ 1 per barel akan meningkatkan surplus anggaran pemerintah Indonesia sebesar Rp 0,3 – 0,5 trilliun. Menurut Moekti, kenaikan harga minyak dunia biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga komoditas lainnya.
Baca Juga: Imbal hasil SUN berpeluang naik akibat sejumlah sentimen negatif
Terkait satu persoalan lain yaitu kebijakan The Fed (Bank Sentral AS), Moekti berpendapat jika The Fed akan mengadakan sidang pada September 2019 atau kuartal IV tahun ini, sebelum Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia.
Pada sidang tersebut, besar kemungkinan The Fed akan menurunkan tingkat suku bunganya.
"Bank Indonesia sendiri sudah menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% pada akhir Agustus kemarin. Rencananya, BI bakal menggelar lagi RDG bulan ini untuk menetapkan tingkat suku bunga," kata Moekti.
Ia memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) atau BI 7-Day Reserve Repo Rate akan diturunkan bunga sebesar 25 bps menjadi 5,25%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News