kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.992.000   -5.000   -0,17%
  • USD/IDR 17.008   36,00   0,21%
  • IDX 7.022   -114,92   -1,61%
  • KOMPAS100 967   -21,57   -2,18%
  • LQ45 714   -14,61   -2,01%
  • ISSI 244   -4,92   -1,97%
  • IDX30 388   -4,33   -1,10%
  • IDXHIDIV20 485   -2,12   -0,43%
  • IDX80 109   -2,57   -2,31%
  • IDXV30 132   0,44   0,33%
  • IDXQ30 126   -0,69   -0,54%

LPEM UI: Tekanan Inflasi dan Rupiah Melemah, BI Diprediksi Tahan BI-Rate di 4,75%


Selasa, 17 Maret 2026 / 05:36 WIB
LPEM UI: Tekanan Inflasi dan Rupiah Melemah, BI Diprediksi Tahan BI-Rate di 4,75%
ILUSTRASI. Logo Bank Indonesia (BI) di gedung BI, Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia diperkirakan memiliki ruang yang terbatas untuk memangkas suku bunga acuan atau BI-Rate pada Maret 2026.

Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menjelaskan bahwa inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar 4,76% secara tahunan (year on year/YoY). Angka ini melampaui kisaran target inflasi BI sebesar 1,5%–3,5%.

Menurutnya, kenaikan inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh efek basis rendah akibat diskon tarif listrik pada awal 2025.

Baca Juga: Terlambat Lapor SPT Tahunan Masih Bisa Dilakukan Tahun 2026, Cek Caranya Di Coretax

Meski peningkatan inflasi dinilai masih moderat, konflik antara Amerika Serikat dan Iran memunculkan risiko inflasi impor melalui kenaikan harga energi global.

Selain itu, situasi geopolitik tersebut juga memicu kekhawatiran terhadap kemampuan Indonesia menjaga batas defisit anggaran sebesar 3% dari produk domestik bruto (PDB).

Kondisi tersebut diperburuk oleh sejumlah revisi prospek negatif dari lembaga pemeringkat yang turut memengaruhi sentimen pasar.

Secara keseluruhan, investor asing mencatat arus keluar bersih sebesar US$ 0,75 miliar. Arus keluar terbesar terjadi di pasar obligasi yang mencapai US$ 0,77 miliar.

Sementara itu, pasar saham mencatat arus masuk sebesar US$ 0,03 miliar, seiring aksi beli selektif investor asing terhadap saham sektor energi di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan.

Baca Juga: ASN Wajib Tahu! Tolak THR Lebaran, Hindari Jerat Pidana Korupsi

“Dalam kondisi ini, Bank Indonesia memiliki ruang yang terbatas untuk memangkas suku bunga. Kami berpandangan BI sebaiknya mempertahankan BI-Rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi,” ujar Riefky dalam keterangannya, Senin (16/3/2026).

Riefky juga menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang masih berlanjut akibat akumulasi sentimen negatif, baik dari konflik AS–Iran maupun kerentanan domestik yang kembali mencuat.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Senin (16/3/2026) pukul 14.40 WIB, rupiah di pasar spot melemah 0,25% secara harian ke level Rp 17.000 per dolar AS. Hingga akhirnya ditutup pada level Rp 16.997, atau melemah 0,23%.

Ia menjelaskan, jika BI memutuskan memangkas suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur bulan ini, penyempitan selisih suku bunga berpotensi memperbesar tekanan terhadap rupiah yang saat ini sudah melemah.

Baca Juga: One Way & Contra Flow Tol Trans Jawa Dimulai Hari Ini (17/3), Cek Jadwal Lengkapnya

“Selain itu, perang AS–Iran juga meningkatkan potensi tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak serta depresiasi nilai tukar, sehingga ruang pemangkasan suku bunga menjadi semakin terbatas,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menilai pemerintah juga tengah menghadapi ujian terhadap kredibilitas kebijakan fiskal.

Sentimen negatif belakangan ini banyak dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi pelebaran defisit anggaran yang saat ini dibatasi maksimal 3% dari PDB.

“Dalam kondisi seperti ini, BI perlu tetap bersikap prudent, memperkuat koordinasi dengan pemerintah, dan terus menunjukkan independensi kelembagaannya,” pungkas Riefky.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×