Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman menilai, surplus keseimbangan primer APBN sebesar Rp154 triliun hingga Agustus 2026 belum cukup untuk menunjukkan penguatan fiskal secara struktural.
Menurutnya, meski defisit APBN masih terkendali di level 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), pemerintah tetap perlu mewaspadai tingginya beban bunga utang serta memastikan belanja negara mampu memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian.
"Secara headline, APBN Agustus 2026 membaik, di mana keseimbangan primer surplus Rp 154 triliun dan defisit hanya 0,93% terhadap PDB. Namun, ini baru menunjukkan fiskal terkendali secara jangka pendek, belum membuktikan APBN semakin kuat secara struktural," ujar Rizal kepada Kontan, Minggu (20/9/2026).
Lebih lanjut Rizal menilai, surplus keseimbangan primer tidak bisa dibaca terlalu optimistis karena pemerintah masih menanggung beban bunga utang yang mencapai sekitar Rp 394 triliun.
Baca Juga: Belanja APBN Capai 59,7%, CORE: Pemerintah Perlu Percepat Belanja Berkualitas
Rizal menilai kesehatan fiskal lebih ditentukan oleh keberlanjutan penerimaan, kualitas belanja, serta kemampuan pemerintah menghasilkan surplus primer secara konsisten.
"Jadi bukan sekadar defisit yang mengecil sementara," jelasnya.
Di sisi lain, Rizal melihat adanya paradoks dalam kondisi APBN saat ini. Secara akuntansi, APBN terlihat sehat, tetapi daya ungkit belanja pemerintah terhadap perekonomian dinilai belum cukup kuat.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kurangnya belanja pemerintah, melainkan rendahnya fiscal multiplier ketika belanja belum mampu mendorong investasi, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja secara optimal.
Baca Juga: Serapan APBN 59,7% hingga Agustus, Belanja Pemerintah Jadi Motor Ekonomi
"APBN tidak cukup sekadar spending more, tetapi harus spending better agar setiap rupiah fiskal menghasilkan pertumbuhan yang lebih besar," katanya.
Adapun jika melihat kinerja APBN 2026, sampai dengan Agustus, realisasi pendapatan negara mencapai Rp 2.055,6 triliun. Angka tersebut setara 65,2% dari target dalam APBN 2026 dan tumbuh 25,4% secara tahunan (year on year/yoy).
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp 2.295,7 triliun atau 59,7% dari pagu APBN 2026. Belanja tersebut tumbuh 17,1% yoy.
Dengan realisasi tersebut, keseimbangan primer APBN hingga Agustus 2026 tercatat surplus Rp154 triliun. Adapun pembiayaan anggaran mencapai Rp 473,5 triliun.
Defisit APBN hingga Agustus 2026 pun tercatat sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Baca Juga: Belanja Kementerian/Lembaga Capai Rp 912,4 Triliun hingga Agustus 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














