Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Isu perombakan Kabinet Merah Putih kembali mengemuka seiring evaluasi terhadap kinerja sejumlah menteri dalam menjalankan program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Wacana reshuffle ini muncul di tengah sorotan terhadap sejumlah kementerian.
Beberapa menteri menjadi perhatian publik, di antaranya Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni terkait mitigasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta Menteri ATR/BPN setelah orang terdekatnya tersandung operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Analis Komunikasi Politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio, menegaskan bahwa keputusan untuk melakukan reshuffle kabinet sepenuhnya merupakan hak prerogatif Presiden.
Hendri juga meyakini Presiden Prabowo Subianto memiliki kemampuan untuk mengevaluasi kinerja para menterinya secara objektif.
"Presiden pasti bisa menilai menteri mana saja yang loyal bekerja, atau yang hanya pecintraan dan atau yang memang hanya untuk kepentingan parta," kata Hendri pada Kontan.co.id, Minggu (20/9/2026).
Baca Juga: Pendidikan Gratis hingga Perguruan Tinggi Butuh Perhitungan Fiskal Matang
Menurut Hendri, Presiden tidak perlu ragu melakukan reshuffle apabila langkah tersebut diperlukan untuk meningkatkan efektivitas kerja pemerintahan di bawah kepemimpinannya.
Ia juga mengingatkan agar sosok yang dipilih dalam perombakan kabinet memiliki loyalitas tinggi serta kemampuan untuk bekerja dan mengabdi kepada masyarakat.
"Karena baik buruknya pemerintahan itu yang di ingat presidennya bukan menteri. Jadi kalau bagus presiden bagus kalau jelek presiden jelek," tegasnya.
Prabowo Buka Peluang Reshuffle Kabinet
Sebelumnya, Presiden Prabowo memang telah melakukan reshuffle kabinet pada Senin (14/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Dalam kesempatan lain, Prabowo menyebut dua tahun masa kepemimpinannya dapat menjadi momentum yang tepat apabila kembali dilakukan perombakan Kabinet Merah Putih.
Menurut Prabowo, masa dua tahun merupakan waktu yang cukup bagi para pembantunya untuk menunjukkan kemampuan dalam merealisasikan janji-janji pemerintah.
"Saya kira itu sesuatu yang logis ya, dua tahun. Jadi masing-masing sudah punya waktu untuk membuktikan kemampuannya, dan sebagainya," ucap Prabowo dalam Program Presiden Prabowo Menjawab yang dipantau secara daring melalui YouTube Resmi Prabowo Subianto, Jumat (18/9).
Prabowo mengatakan evaluasi terhadap kinerja menteri dilakukan secara berkala. Ia juga menyebut terdapat sejumlah menteri yang memiliki kinerja baik dalam mendukung berbagai program pemerintah.
Baca Juga: Kemenko PM Perluas Sinergi Mendorong Daya Saing Pelaku Usaha Lokal
Sebagai contoh, Prabowo menyoroti kinerja tim ekonomi dan pertanian yang dinilai berhasil mewujudkan swasembada lebih cepat. Target yang sebelumnya diproyeksikan tercapai dalam empat tahun disebut berhasil diwujudkan dalam waktu satu tahun.
Di sisi lain, Prabowo mengatakan bahwa apabila reshuffle kembali dilakukan, alasan perombakan dapat beragam.
Ia memastikan faktor kapabilitas dan kemampuan akan menjadi pertimbangan dalam menempatkan seseorang pada posisi kementerian.
"Jadi kalaupun nanti ada reshuffle, saya kira antara lain untuk promosi orang, tentunya kita organisasi ini kita selalu harus cari benar-benar the right man in the right place, kompetensi, dan kalau ada yang mungkin dia enggak cocok di tempat itu ya kita harus, tadi kita harus mampu untuk mengganti orang yang benar," ujar dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














