kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Kenaikan Sejumlah Tarif Bakal Kerek Inflasi di Awal Tahun 2023, Ini Respons Kemenkeu


Rabu, 14 Desember 2022 / 14:06 WIB
Penumpang menunggu kedatangan KRL di Stasiun Manggarai, Jakarta, Kamis (13/1/2022). Kenaikan Sejumlah Tarif Bakal Kerek Inflasi di Awal Tahun 2023, Ini Respons Kemenkeu


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Kenaikan sejumlah tarif pada tahun depan dikhawatirkan mengerek inflasi di awal tahun 2023.

Kenaikan tersebut misalnya tarif cukai rokok konvensional sebesar 10%, tarif cukai rokok elektrik sebesar 5%, wacana kenaikan tarif KRL, hingga juga kenaikan tarif BPJS Kesehatan.

Analis Kebijakan Ahli Madya, Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Rahadian Zulfadin mengatakan, kenaikan tarif tersebut memang akan berdampak terhadap inflasi. Namun prediksinya tidak akan terlalu besar.

Rahadian mengambil contoh, ketika pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), dampak inflasi yang terasa malah jauh di bawah prediksi BKF. Padahal biasanya kenaikan harga BBM sangat luas baik  konsumsi.

Baca Juga: Penerimaan PPN Moncer, Ini Pendorongnya

“Pas BBM naik inflasi kita perkirakan bisa di atas 6,1%. Tapi ternyata sampai sekarang 5,4%. Artinya kenaikan harga BBM domestik yang dampaknya sangat besar terhadap inflasi, itu ternyata realisasinya tidak sebesar yang kita perkriakan,” tutur Rahadian dalam agenda Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rabu (14/12).

Meski begitu, menurutnya pemerintah tidak akan gegabah dalam menaikkan berbagai tarif pada tahun depan, mengingat 2023 merupakan tahun politik. Kalaupun ada, ia menjamin dampaknya akan minim ke inflasi.

Baca Juga: Begini Kata Pengamat Soal Pertumbuhan Pendapatan Negara RI Tertinggi di Asia Tenggara

“Tahun depan itu tahun politik, kemungkinan akan kecil ada kenaikan tarif-tarif, kalaupun ada dampaknya akan kecil ke inflasi. Inflasi kan diukur secara tahunan, jadi kalau misalnya di 2022 ini inflasi sudah tinggi, nanti di semester II tahun depan itukan diukur dari basis yang sangat tinggi, harusnya tahun depan inflasinya lebih rendah,” jelasnya.

Untuk itu, dengan alasan tersebut maka pemerintah menargetkan inflasi di 2023 lebih rendah di kisaran 3,6% yoy. Sehingga inflasi tahun depan bisa lebih terkendali, selain juga tetap waspada karena ada ancaman ekonomi yang melambat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×