Reporter: Adi Wikanto, Ahmad Febrian | Editor: Ahmad Febrian
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peluang bekerja di Jepang maupun di perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia terus terbuka. Selain melalui Program Pemagangan Jepang yang kembali dibuka pemerintah, permintaan tenaga kerja yang memiliki kemampuan bahasa Jepang juga terus meningkat. Hal ini seiring ekspansi investasi dan bisnis perusahaan Jepang di Indonesia.
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) kembali membuka pendaftaran Program Pemagangan Jepang dan Pelatihan Kaigo melalui platform Skillhub dalam ekosistem SIAPkerja. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah meningkatkan kompetensi tenaga kerja Indonesia sekaligus mempersiapkan sumber daya manusia yang siap mengisi peluang kerja di Jepang.
Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemnaker, Darmawansyah mengatakan, kedua program tersebut untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis, kemampuan bahasa Jepang, serta etos kerja sesuai standar industri internasional.
"Kesempatan kerja global harus diimbangi dengan kesiapan kompetensi yang memadai. Karena itu, Kemnaker terus memperkuat pelatihan vokasi dan pemagangan agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing dan beradaptasi di lingkungan kerja internasional, termasuk di Jepang," ujarnya, dikutip dari Kompas.com, pekan lalu.
Baca Juga: Transformasi Digital KBRI Swiss via Ekosistem Smart Embassy Tingkatkan Pelayanan WNI
Melalui Program Pemagangan Jepang 2026, peserta akan menjalani pelatihan bahasa Jepang, pembentukan etos dan budaya kerja Jepang, pelatihan keterampilan sesuai kebutuhan industri, serta pembekalan kesiapan kerja internasional sebelum diberangkatkan ke Jepang.
Peluang karier bagi tenaga kerja yang menguasai bahasa Jepang juga tidak hanya tersedia di Jepang. Seiring bertambahnya perusahaan Jepang yang beroperasi di Indonesia, kebutuhan terhadap profesional bilingual semakin meluas di berbagai sektor.
Berdasarkan data Peoplyee, Indonesia saat ini memiliki sekitar 700.000 pembelajar bahasa Jepang. Namun, besarnya jumlah tersebut belum diikuti akses informasi karier yang memadai. Banyak kandidat masih kesulitan memetakan peluang kerja, memahami kebutuhan industri, maupun mengenali budaya kerja perusahaan Jepang.
Perusahaan kini tidak lagi hanya mencari tenaga penerjemah, tetapi juga profesional yang menguasai bahasa Jepang untuk berbagai fungsi. Mulai administrasi, sales, human resources, finance, engineering, hingga level manajerial dan eksekutif.
Kesenjangan antara ketersediaan talenta dengan akses terhadap peluang kerja tersebut mendorong lahirnya berbagai inisiatif mempertemukan kebutuhan industri dengan tenaga kerja. Peoplyee misalnya memperkenalkan KyariGo, platform karier dan komunitas bagi para Japanese speaker di Indonesia.
Platform tersebut menyediakan informasi lowongan kerja di perusahaan Jepang di Indonesia. Juga rtikel mengenai tren industri dan karier. CEO Peoplyee Kenichi Fujiki mengatakan, tantangan utama di Indonesia bukan terletak pada minimnya jumlah kandidat yang menguasai bahasa Jepang, melainkan belum optimalnya keterhubungan antara talenta dengan perusahaan dan informasi karier yang tersedia.
"Kami berupaya membantu setiap individu mengenali potensi terbaik mereka, memperluas pilihan karier, serta mengambil langkah profesional berikutnya dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih tinggi," ujar Kenichi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














