kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Bank Indonesia Beri Insentif DNDF untuk Kurangi Permintaan Dolar AS


Rabu, 22 Juli 2026 / 16:02 WIB
Bank Indonesia Beri Insentif DNDF untuk Kurangi Permintaan Dolar AS
ILUSTRASI. Gedung Bank Indonesia (BI) di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memperluas insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) sebagai bagian dari strategi memperdalam pasar valuta asing (valas) domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kebijakan tersebut ditempuh dengan mendorong diversifikasi pembayaran, perdagangan, dan investasi menggunakan mata uang lokal melalui skema Local Currency Transaction (LCT).

Menurut Perry, kerja sama penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara telah berkembang dengan sejumlah negara, seperti Jepang, China, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan India.

Baca Juga: Dorong Pengembangan Pendidikan Hukum, Peradi Gandeng Perguruan Tinggi

"Dengan diversifikasi pembayaran, perdagangan, dan investasi, ini akan mengurangi permintaan terhadap dolar," ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).

Ia menjelaskan, BI mendorong pemanfaatan mata uang lokal seperti yen, yuan, maupun mata uang mitra lainnya dalam transaksi perdagangan dan investasi. Langkah tersebut juga diharapkan meningkatkan aktivitas transaksi di pasar valas domestik.

Untuk mempercepat implementasinya, BI memperluas pemberian insentif bagi pelaku usaha yang memanfaatkan transaksi mata uang lokal maupun instrumen lindung nilai DNDF.

Perry mengatakan BI memberikan insentif pemberian untuk meningkatkan LCT dengan negara mitra untuk diversifikasi transaksi valas berupa penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada BI) sebesar 10%, dan pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10%/

"Ini tidak hanya meningkatkan LCT, tetapi juga memanfaatkannya bagi pendalaman pasar valas dalam negeri," katanya.

Menurut Perry, kombinasi insentif bagi arus masuk devisa, pemanfaatan transaksi mata uang lokal, serta penguatan instrumen DNDF akan membuat pasar valas domestik semakin dalam. Pada akhirnya, langkah tersebut diharapkan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah tanpa harus mengandalkan kebijakan suku bunga.

Baca Juga: Bappenas: SDGs Jadi Strategi Tingkatkan Daya Saing Ekonomi Indonesia

"Kami berikan insentif untuk meningkatkan pemanfaatan LCT dalam diversifikasi transaksi valas dan juga pendalaman pasar valas dalam negeri. Dengan insentif ini, pasar valas kita akan semakin dalam dan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah," ujar Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×