Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dinilai masih menyisakan ruang untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps), meski saat ini memilih mempertahankan kebijakan moneter ketat. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi.
Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa mengatakan, keputusan BI menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada rapat Juli 2026 menunjukkan keseimbangan antara menjaga stabilitas pasar keuangan dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, BI saat ini mulai memperkuat bias kebijakan yang lebih pro-pertumbuhan setelah sebelumnya menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin dalam dua bulan terakhir.
Baca Juga: Kucurkan Insentif, BI Andalkan SRBI untuk Tarik Dana Asing
"BI masih memiliki ruang terbatas untuk satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 bps, dengan stabilitas nilai tukar tetap menjadi jangkar utama kebijakan," ujar Jessica dalam riset 22 Juli 2026.
Ia menilai, kondisi pasar keuangan domestik mulai menunjukkan perbaikan. Rupiah kembali menguat di bawah level Rp 18.000 per dolar AS, sementara bauran kebijakan BI mulai menarik kembali aliran dana asing ke instrumen berdenominasi rupiah seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).
Selain itu, cadangan devisa Indonesia meningkat 1,7% secara bulanan menjadi US$ 125 miliar. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah sekitar US$ 10,1 miliar dibandingkan posisi awal tahun, yang mengindikasikan BI masih melakukan intervensi valas untuk menjaga stabilitas rupiah.
Jessica memperkirakan BI telah menggelontorkan sekitar US$ 17 miliar hingga US$ 18 miliar untuk intervensi pasar valuta asing di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Lebih lanjut, Jessica melihat strategi BI dan pemerintah dalam meningkatkan daya tarik aset rupiah mulai membuahkan hasil. Kenaikan imbal hasil SRBI dan SBN mendorong masuknya kembali investor asing ke pasar domestik.
Sejak awal tahun, imbal hasil SRBI meningkat signifikan, yakni sekitar 237 bps untuk tenor enam bulan, 252 bps untuk tenor sembilan bulan, dan 272 bps untuk tenor 12 bulan. Sementara itu, yield SBN tenor dua tahun naik sekitar 210 bps dan tenor 10 tahun meningkat 123 bps.
Kondisi tersebut mendorong aliran dana asing masuk sebesar Rp 173,9 triliun ke SRBI dan Rp 9,3 triliun ke pasar SBN sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: Sudaryono Ultimatum Mafia Proyek MBG: Catut Nama Saya, Laporkan!
"Foreign ownership SBN meningkat menjadi 13% dari total outstanding pada Juli 2026, tertinggi sejak Februari 2026," jelas Jessica.
Di sisi lain, perubahan strategi pengelolaan likuiditas pemerintah juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Keputusan Kementerian Keuangan untuk mempertahankan saldo kas pemerintah di luar BI diperkirakan akan mengubah pola distribusi likuiditas perbankan.
Sebagian dana tersebut diperkirakan akan dialihkan ke bank-bank BUMN (Himbara) untuk memperkuat likuiditas dan mendukung target pertumbuhan kredit dua digit.
Selain mempertahankan suku bunga, BI juga memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mempercepat transmisi kebijakan ke sektor riil.
Beberapa langkah yang ditempuh antara lain meningkatkan batas maksimum insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi 6% dari Dana Pihak Ketiga (DPK) dari sebelumnya 5,5%, serta memperkenalkan insentif baru melalui instrumen PPU hingga 2% dari DPK mulai September 2026.
BI juga memperluas aset yang dapat menjadi agunan repo dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi PT SMI serta PT SMF. Selain itu, kerangka Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) diperluas untuk memperbesar akses pembiayaan bagi sektor UMKM.
Jessica menyebut langkah tersebut menunjukkan upaya BI mendorong perbankan agar lebih banyak menyalurkan kredit dibandingkan menempatkan dana pada instrumen moneter seperti SRBI.
Baca Juga: Sudaryono Ultimatum Mafia Proyek MBG: Catut Nama Saya, Laporkan!
Namun, ia menilai BI tetap perlu menjaga daya tarik SRBI agar investor asing tetap tertarik menyerap penerbitannya.
Meski rupiah mulai menguat, Jessica melihat ruang pelonggaran kebijakan masih terbatas. Tekanan eksternal, termasuk ketidakpastian geopolitik global dan potensi kenaikan inflasi akibat fenomena El Niño, menjadi alasan BI tetap berhati-hati.
"Penguatan rupiah masih rentan di tengah meningkatnya tensi geopolitik AS-Iran dan risiko inflasi akibat perkiraan puncak El Niño pada Agustus 2026," tulis Jessica.
Dengan kondisi tersebut, BI diperkirakan masih akan menjaga sikap hati-hati sebelum beralih ke kebijakan yang lebih longgar. Kenaikan satu kali lagi sebesar 25 bps masih menjadi opsi apabila tekanan terhadap rupiah dan inflasi kembali meningkat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
