kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.729.000   18.000   0,66%
  • USD/IDR 17.719   -99,00   -0,56%
  • IDX 6.255   247,31   4,12%
  • KOMPAS100 831   37,01   4,66%
  • LQ45 625   27,23   4,56%
  • ISSI 213   7,03   3,41%
  • IDX30 354   15,20   4,48%
  • IDXHIDIV20 435   17,42   4,17%
  • IDX80 94   4,30   4,80%
  • IDXV30 116   2,90   2,56%
  • IDXQ30 114   4,59   4,21%

Kementan Sebut Beras Tak Lagi Menjadi Pendorong Utama Inflasi Nasional


Senin, 15 Juni 2026 / 20:32 WIB
Kementan Sebut Beras Tak Lagi Menjadi Pendorong Utama Inflasi Nasional
ILUSTRASI. Harga Beras Masih di Atas Harga Eceran Tertinggi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Hervin Jumar | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan beras tidak lagi menjadi pendorong utama inflasi nasional seiring terjaganya pasokan dan produksi pangan dalam negeri. 

Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap terkendalinya inflasi pangan, termasuk pada periode Iduladha 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Mei 2026 secara tahunan (year on year) tercatat 3,08%, sedangkan secara bulanan (month to month) sebesar 0,28%. Inflasi pada momentum Iduladha tahun ini juga dinilai lebih rendah dibandingkan saat Idulfitri.

Baca Juga: Komisi IX Minta BGN Revisi Usulan Anggaran 2027, Pagu Rp 270 Triliun Belum Final

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, kontribusi komoditas pangan terhadap inflasi Mei relatif rendah. Menurutnya, komoditas yang memberi andil inflasi antara lain cabai merah, minyak goreng, bawang merah, tomat, dan bensin.

"Untuk Mei 2026 inflasi month to month sebesar 0,28%. Kalau dibandingkan dengan momen Idulfitri, inflasi pada momen Iduladha relatif lebih rendah. Untuk komoditas pangan, andilnya terhadap inflasi Mei juga tidak terlalu tinggi," ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (15/6/2026).

Senada, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyebut, beras kini relatif terjaga dan tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi seperti yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

“Beras relatif terjaga dan selama dua tahun terakhir tidak lagi menjadi penyumbang utama inflasi. Daging ayam ras, daging sapi, gula pasir, dan telur ayam ras juga berada dalam kondisi baik,” kata Tito.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menilai, stabilitas harga beras mencerminkan semakin kuatnya produksi pangan nasional. 

Ia menyebut capaian tersebut menjadi indikator bahwa upaya peningkatan produksi mulai berdampak terhadap pengendalian harga.

“Kita syukuri beras tidak lagi menjadi penyumbang inflasi utama,” ujar Amran.

Kendati begitu, Kementan masih mencermati gejolak harga pada sejumlah komoditas pangan lainnya. Amran mengatakan kenaikan harga bawang merah dan minyak goreng saat ini lebih dipengaruhi persoalan distribusi ketimbang keterbatasan pasokan.

Menurut Amran, produksi bawang merah nasional bahkan sudah mencukupi hingga dapat diekspor. Sementara untuk minyak goreng, ketersediaan bahan baku dinilai lebih dari cukup sehingga distribusi ke daerah perlu dipercepat.

Kementan menegaskan untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah daerah bersama Perum Bulog diminta mengaktifkan pasar murah, khususnya untuk beras, ayam ras, dan telur ayam ras. 

Langkah tersebut juga ditujukan untuk membantu peternak yang tengah menghadapi tekanan harga di tingkat produsen.

Selain itu, Kementan telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) agar konsumsi telur dan daging ayam dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditingkatkan dari satu kali menjadi tiga kali dalam sepekan. Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat menyerap produksi peternak sekaligus menjaga keseimbangan harga pangan.

Amran juga menegaskan ketahanan pangan nasional semakin membaik. Dari 11 komoditas pangan strategis yang dikendalikan pemerintah, delapan komoditas disebut telah mencapai swasembada. Sementara tiga komoditas lainnya, yakni bawang putih, kedelai, dan daging, masih dipenuhi sebagian melalui impor.

“Kebutuhan kita sekitar 68 juta ton, produksi mencapai 73 juta ton. Impor hanya sekitar 3,5 juta ton atau sekitar 4%. Berdasarkan konsensus FAO, impor di bawah 10% sudah termasuk swasembada. Jadi saat ini kita sudah swasembada pangan,” tegas Amran.

Baca Juga: Efisiensi Anggaran, BGN Evaluasi Penerima MBG dan Insentif Dapur pada 2027

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight promo optimal Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×