Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Komoditas beras masih menjadi penyumbang inflasi saat cadangan beras mencapai 5 juta ton.
Deputi Bidang Distribusi BPS, Ateng Hartono menyebutkan secara year on year (yoy) kelompok penyumbang inflasi pada April di tahun 2026 adalah makanan, minuman dan tembakau yang mencapai 3,06% dengan andil 0,90%.
"Kalau dicermati untuk inflasi tahunan makanan minuman dan tembakau salah satu yang perlu diperhatikan karena mengalami inflasi cukup tinggi salah satunya adalah beres mencapai 4,36% dengan andil inflasi mencapai 0,60% secara year on year," kata Ateng dalam Rapat Koordinasi pengendalian inflasi di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Baca Juga: Jawa dan Sumatra Jadi Penopang Utama PDB Tumbuh 5,61% di Kuartal I 2026
Ateng menyebut, beras masih menjadi penyumbang inflasi tertinggi di beberapa provinsi di Indonesia. Misalnya di Papua Barat, beras masih menempati posisi ketiga penyumbang inflasi mencapai 7,82% dengan andil sebesar 0,53%, sementara di Aceh, beras menjadi penyumbang inflasi utama mencapai 12,87% dengan andil 0,73%.
Sementara itu, Direktur Operasional dan Pelayanan Perum Bulog, Andi Afdal mengakui beras mengalami kenaikan harga di beberapa wilayah di Indonesia.
Menurutnya kenaikan harga ini disumbang oleh kenaikan harga kemasan dan harga biaya angkut lantaran kenaikan BBM sebagai imbas dari ketegangan konflik Timur Tengah.
Menurut Andi, upaya operasi pasar terus dilakukan. Bulog mengklaim terus mengguyur beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk menurunkan harga beras di pasar.
"Instrumen kami untuk SPHP saat ini penjualan distribusi harian sudah mencapai 7.000 per hari. Tapi memang kita perhatian di beberapa daerah tetap ada kenaikan," jelas Andi dalam acara yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













