Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) berpotensi memberi tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia serta memicu arus keluar modal asing (capital outflow), terutama dari investor portofolio.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai kondisi geopolitik yang memanas membuat investor global cenderung menghindari aset berisiko, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
“Tentu pressure-nya cukup kuat di pasar keuangan kita karena pasar keuangan kita statusnya adalah emerging market yang begitu rentan bagi investor global untuk melakukan aksi risk averse atau menghindari risiko saat kondisi kurang kondusif secara global,” ujar Myrdal kepada Kontan, Selasa (2/3/2026).
Menurut dia, jika eskalasi konflik terus meningkat, dampaknya akan kurang positif bagi pasar keuangan domestik. Investor global biasanya memilih mengurangi eksposur di aset berisiko ketika kondisi global tidak kondusif.
Baca Juga: Menteri Bahlil Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Jelang Idul Fitri
Meski demikian, Myrdal melihat kondisi pasar saat ini relatif lebih stabil dibanding lonjakan ketegangan yang terjadi pada akhir pekan lalu. Hal ini membuka peluang adanya pergerakan pasar yang lebih baik dalam jangka pendek, meski tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik ke depan.
“Walaupun tensinya masih panas, tapi tidak sederastis kenaikan tensi pada hari Sabtu dan Minggu. Kita harapkan masih ada peluang untuk jangka pendek pada saat kondisi market seperti ini,” jelasnya.
Dari sisi pasar domestik, ia menilai tekanan akan terasa pada pasar saham, pasar Surat Berharga Negara (SBN), hingga berdampak pada nilai tukar rupiah. Namun, besarnya tekanan diperkirakan terbatas selama eskalasi konflik tidak meningkat tajam seperti periode Sabtu dan Minggu yang lalu.
Ia menambahkan, jika konflik hanya berlangsung secara sporadis, pasar masih berpeluang mengalami rebound dalam jangka pendek. Namun secara umum, tingginya ketegangan geopolitik di Timur Tengah tetap memberikan sentimen negatif bagi negara berkembang.
“Secara umum adanya tensi geopolitik yang tinggi di Timur Tengah ini kurang memberikan dampak yang positif buat negara emerging market seperti kita,” ujarnya.
Lebih lanjut, Myrdal memperkirakan tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari arus keluar dana asing di pasar portofolio. Menurutnya, dana jangka pendek atau hot money berpotensi keluar dari pasar saham maupun pasar obligasi pemerintah.
Baca Juga: THR PNS Diklaim Cair Sejak 26 Feb 2026, Tapi Para ASN Mengaku Belum Terima
“Kalau untuk rupiah saya rasa capital outflow. Hot money-nya banyak yang keluar, baik di pasar saham maupun di pasar surat utang negara,” katanya.
Ia menilai arus masuk dana asing kemungkinan hanya terbatas pada instrumen tertentu seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) apabila imbal hasilnya cukup menarik bagi investor.
“Kalau pun ada yang masuk paling dari lelang SRBI misalnya kalau yield-nya menarik, investor asing ada yang masuk. Paling hanya sebatas itu,” ujar Myrdal.
Kendati demikian, besarnya arus keluar modal akan sangat bergantung pada skala konflik yang terjadi di Timur Tengah. Jika konflik tidak meluas, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih terkendali.
“Kalau perangnya hanya bersifat sporadis, capital outflow juga tidak akan besar. Seharusnya rupiah masih di bawah level Rp 16.999 per dolar AS,” katanya.
Myrdal berharap eskalasi konflik tidak kembali meningkat seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu sehingga dampaknya terhadap pasar keuangan global maupun domestik dapat tetap terbatas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Hot Money
- nilai tukar rupiah
- rupiah
- emerging market
- capital outflow
- Ekonomi Indonesia
- Sekuritas Rupiah Bank Indonesia
- Geopolitik Timur Tengah
- Myrdal Gunarto
- Surat Berharga Negara
- Pasar Keuangan Indonesia
- Pasar Saham Indonesia
- geopolitik Iran Israel
- investor portofolio
- risk averse
- dampak konflik Timur Tengah













