Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Muhammad Rizal Taufikurahman menilai, arah arus modal asing ke pasar Indonesia akan dibayangi ketidakpastian global, terutama dari sisi arus modal asing dan dinamika nilai tukar rupiah.
Meski begitu, Rizal menyebut masih ada peluang terhadap optimisme Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksikan menembus level 10.000 pada 2026, sebagaimana yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum lama ini.
Menurut Rizal, secara teoritis capaian IHSG di level tersebut memungkinkan, namun belum layak dijadikan skenario dasar dalam kondisi global yang masih penuh risiko.
“Level IHSG untuk tembus 10.000 menuntut kombinasi pertumbuhan laba emiten yang kuat, penurunan premi risiko, serta arus dana institusional yang stabil. Selama ketidakpastian global tinggi, valuasi saham Indonesia akan sangat sensitif terhadap sentimen eksternal,” kata Rizal kepada Kontan, Minggu (4/1/2026).
Ia menyoroti eskalasi geopolitik global, termasuk potensi konflik antara Amerika Serikat dan Venezuela, yang dapat menekan harga energi dan mendorong investor global bersikap risk-off. Kondisi ini berpotensi memicu aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca Juga: Faktor Geopolitik dan Perdagangan Global Membayangi Pertumbuhan Ekonomi RI 2026
Dari sisi arus modal asing, Rizal memprediksi pola aliran dana pada 2026 akan bersifat fluktuatif dan dua arah, khususnya untuk investasi portofolio. Investor asing dinilai masih cenderung oportunistik.
"Investor asing masih akan oportunistik, masuk saat volatilitas global mereda dan keluar cepat ketika imbal hasil aset aman global naik," ujarnya.
Sementara itu, investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) dinilai relatif lebih resilien, namun tetap bergantung pada kepastian regulasi, konsistensi kebijakan hilirisasi, serta persepsi terhadap kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.
Menrutnya, tanpa perbaikan struktural yang mampu menurunkan ketidakpastian kebijakan, Rizal menilai arus masuk FDI berisiko tidak berkelanjutan.
Baca Juga: Rapat Perdana di DPR, Menkeu Purbaya Soroti Ancaman Perang Dagang dan Geopolitik
Adapun dari sisi nilai tukar, Rizal menegaskan bahwa rupiah pada 2026 lebih tepat dibaca dalam rentang pergerakan, bukan pada satu angka tertentu.
Dengan asumsi stabilitas makro terjaga dan intervensi Bank Indonesia (BI) berjalan kredibel, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp 16.300 hingga Rp 16.900 per dolar AS.
Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, lonjakan harga energi, maupun pembalikan arus modal global dapat dengan cepat mendorong pelemahan rupiah secara sementara.
“Kunci stabilitas rupiah bukan hanya pada respons moneter defensif, tetapi juga pada penguatan sumber pasokan devisa serta kredibilitas kebijakan makro secara keseluruhan,” pungkas Rizal.
Baca Juga: Di Tengah Geopolitik dan Digitalisasi, BI Cari Arah Baru Sistem Pembayaran Global
Selanjutnya: Proyeksi Kemenperin: Investasi Manufaktur 2026 Tembus Rp 852,9 Triliun
Menarik Dibaca: Cara Mudah Mencari Tambahan Penghasilan untuk Kebutuhan yang Mendesak
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












