kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

Ini pemicu melambatnya pertumbuhan indeks penjualan riil Oktober


Senin, 10 Desember 2018 / 20:49 WIB
Ini pemicu melambatnya pertumbuhan indeks penjualan riil Oktober
ILUSTRASI. Indeks Penjualan Riil


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil survei penjualan eceran Bank Indonesia (BI) menghasilkan Indeks Penjualan Riil (IPR) di Oktober 2018 tumbuh 2,9% dibandingkan tahun lalu.
Meski menunjukkan kinerja yang positif, pertumbuhan IPR ini tak setinggi pertumbuhan IPR di bulan September 2018 yang mencapai 4,8%.

Ekonom Maybank Myrdal Gunarto menyebut, perlambatan pertumbuhan IPR di Oktober 2018 disebabkan oleh penguatan nilai tukar dollar dan kenaikan harga minyak global. "Dua faktor tersebut membuat agresifitas konsumen untuk membeli barang-barang ritel menjadi tertahan," tutur Myrdal kepada Kontan.co.id, Senin (10/12).

Sementara itu, menurut keterangan Bank Indonesia, kinerja penjualan eceran ini didukung oleh penjualan eceran pada subkelompok komoditas sandang dan kelompok komoditas bahan bakar kendaraan bermotor.

Myrdal berpendapat, peningkatan pembelian sandang ini merupakan dorongan dari periode musiman menjelang akhir tahun. Sementara, kenaikan pembelian bahan bakar bermotor dipicu oleh kenaikan harga BBM non subsidi yang mengikuti kenaikan harga minyak global yang menyentuh level US$ 80 per barel di Oktober 2018. "Itu kemudian terefleksi dari kenaikan IPR dari kelompok barang tersebut," ujar Myrdal.

Myrdal memperkirakan, November ini indeks penjualan riil masih akan tumbuh. Namun, pertumbuhannya hanya sekitar 5% secara year on year. Pertumbuhan ini terdorong oleh inflasi yang stabil, penurunan harga minyak global dan apresiasi rupiah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×