kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Ini dampak kenaikan BBM terhadap inflasi versi BI


Kamis, 20 Juni 2013 / 17:44 WIB
ILUSTRASI. Kementerian Kesehatan fokuskan penanganan pasien terkonfirmasi omicron melalui telemedicine.


Reporter: Annisa Aninditya Wibawa | Editor: Asnil Amri

JAKARTA. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akan segera naik. Kenaikan harga ini sudah pasti berdampak pada inflasi. Bank Indonesia (BI) melihat, tingkat inflasi bisa naik sekitar 2,2% sampai 2,4%.

"Angka tersebut merupakan tambahan baseline pada inflasi sebelum kenaikan harga BBM," sebut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi A Johansyah, Kamis, (20/6). Menurutnya, inflasi naik besar pada bulan Juni, yang menyumbang 1,63%.

Dari Januari sampai akhir Mei, inflasi berada di posisi 5,46%. Kemudian sampai akhir Juni, inflasi diprediksi mencapai 7,09%. Ini karena masyarakat cenderung kaget pada ketuk palu kenaikan harga BBM.

Kemudian, sisa sekitar 0,5% inflasi akan terserap di bulan Juli, Agustus, dan September. "Nanti puncak inflasi ada di 3 bulan itu," ujar Difi.

Pada akhir tahun, BI memproyeksi, inflasi akan berada di kisaran 7%-7,74%. Ini merupakan inflasi bulanan pada Juni sampai Desember, yang dihitung secara year on year.

Detailnya, BI memproyeksikan inflasi berada di titik 7,65%. Namun, bila pihak bank sentral ini melakukan koordinasi dengan pemerintah, inflasi bisa sedikit lebih rendah di posisi 7,2%.

Ia menyebut, dampak inflasi dari kenaikan BBM ini akan berlangsung temporer, yakni selama 2 sampai 3 bulan saja. Namun setelah itu, BI yakin kondisi akan kembali stabil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×