kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.122.000   -13.000   -0,41%
  • USD/IDR 16.902   8,00   0,05%
  • IDX 7.948   -68,83   -0,86%
  • KOMPAS100 1.114   -10,94   -0,97%
  • LQ45 808   -4,02   -0,49%
  • ISSI 283   -2,92   -1,02%
  • IDX30 428   -1,17   -0,27%
  • IDXHIDIV20 519   1,93   0,37%
  • IDX80 125   -1,03   -0,82%
  • IDXV30 141   0,30   0,22%
  • IDXQ30 138   -0,06   -0,05%

THR dan BHR Naik pada 2026, Ekonom: Daya Beli Tetap Tergerus Inflasi!


Selasa, 03 Maret 2026 / 14:11 WIB
THR dan BHR Naik pada 2026, Ekonom: Daya Beli Tetap Tergerus Inflasi!


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Jelang perayaan Idul Fitri 2026, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai stimulus ekonomi.

Salah satu stimulus yang diupayakan adalah kebijakan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan Bonus Hari Raya (BHR). Untuk THR Aparatur Sipil Negara (ASN), termasuk PPPK, prajurit TNI/Polri, serta pensiunan, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp 55 triliun atau meningkat sekitar 10% dibandingkan tahun lalu.

Sementara itu, BHR akan diberikan kepada lebih dari 850 ribu mitra penerima dengan nilai total sekitar Rp 220 miliar.

Meski demikian, Direktur Center of Economic dan Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menilai pemberian THR tetap penting bagi daya beli masyarakat, namun dampaknya bersifat musiman dan jangka pendek.

"Pemberian THR penting tapi sifatnya seasonal dan jangka pendek. Meski jumlahnya naik, inflasi pada Ramadan-Lebaran kali ini cukup tinggi," ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Selasa (3/3/2026).

Baca Juga: THR dan BHR Ojol Meningkat di Tahun Ini, Airlangga Pede Ekonomi Tumbuh Tinggi

Bhima mencatat, pada Februari inflasi umum tercatat sebesar 4,76% secara tahunan (year on year), sementara inflasi kelompok volatile food mencapai 4%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi utama relatif lebih tinggi dibanding momentum Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya. Artinya, kenaikan THR berpotensi tergerus oleh lonjakan harga barang dan jasa. 

"Kenaikan THR tetap tergerus oleh inflasi yang relatif lebih tinggi dari momentum lebaran sebelumnya," katanya.

Ia juga mengingatkan adanya risiko inflasi lanjutan akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi global. Menurutnya, gangguan distribusi minyak dunia belum dapat dipastikan kapan akan berakhir.

"Paska Lebaran, pengeluaran BBM berisiko naik, berbarengan dengan momen tahun ajaran baru," terang Bhima.

Baca Juga: Menaker: BHR Ojol Wajib Dibayar Tunai, Minimal 25% Rata-Rata Pendapatan

Dengan kombinasi tekanan inflasi pangan, potensi kenaikan harga energi, serta tambahan kebutuhan saat memasuki tahun ajaran baru, Bhima menilai rumah tangga akan menghadapi lonjakan pengeluaran yang cukup tinggi tahun ini.

Sementara itu, Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai kebijakan THR dan BHR justru akan menjadi pendorong kuat konsumsi domestik pada kuartal pertama tahun ini.

"Kalau saya lihat sudah pasti akan mendongkrak private consumption kita. Dan untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi juga kita lihat tumbuh tetap agresif untuk kuartal pertama tahun ini," ujar Myrdal.

Myrdal memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,37% secara tahunan (year on year). Sementara konsumsi rumah tangga atau private consumption diperkirakan tumbuh 5,16% yoy.

"Memang setiap Lebaran itu menjadi peak season buat ekonomi Indonesia. Karena itulah kita lihat dampak kebijakan THR, baik oleh pemerintah maupun swasta, kelihatannya akan mampu mendongkrak sisi konsumsi terutama konsumsi rumah tangga di Indonesia," jelasnya.

Baca Juga: Kabar Gembira! Menaker Pastikan BHR Ojol Naik, Nilainya Lebih Besar dari 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×