kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.628.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.855   89,00   0,50%
  • IDX 6.385   -56,43   -0,88%
  • KOMPAS100 835   -7,46   -0,89%
  • LQ45 634   -5,96   -0,93%
  • ISSI 222   -3,01   -1,34%
  • IDX30 353   -3,37   -0,95%
  • IDXHIDIV20 440   -4,01   -0,90%
  • IDX80 95   -0,92   -0,95%
  • IDXV30 121   -0,86   -0,71%
  • IDXQ30 114   -1,28   -1,12%

Peta Investasi Global Bergeser ke AI dan Manufaktur, RI Masih Andalkan Komoditas


Senin, 21 September 2026 / 20:17 WIB
Peta Investasi Global Bergeser ke AI dan Manufaktur, RI Masih Andalkan Komoditas
ILUSTRASI. SCBD - Danayasa Arthatama (KONTAN/Fransiskus Simbolon)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Posisi Indonesia semakin tertinggal dalam persaingan menarik investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) di ASEAN.

Pergeseran peta investasi kawasan ke sektor teknologi dan manufaktur membuat negara-negara dengan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia lebih diuntungkan, sementara Indonesia masih bertumpu pada pasar domestik dan komoditas.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, pertumbuhan FDI di sejumlah negara ASEAN saat ini didorong oleh sektor unggulan yang menjadi fokus investor global. Investasi pada sektor teknologi, khususnya data center dan artificial intelligence (AI), tengah tumbuh pesat.

Baca Juga: Penjualan SR025 Tembus Rp 29,77 T, Cetak Rekor Tertinggi Dalam 10 Tahun

Kondisi ini menguntungkan negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur yang mampu memenuhi kebutuhan industri tersebut, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.

"FDI pada sektor teknologi, khususnya data center AI, tengah bertumbuh pesat saat ini, sehingga menguntungkan negara dengan SDM dan infrastruktur yang dapat menampung kebutuhan tersebut, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura," ujar David kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Sementara itu, Vietnam memiliki keunggulan berbeda karena posisi geografisnya yang dekat dengan China. Kedekatan tersebut membuat Vietnam menjadi salah satu negara utama dalam aktivitas transshipment dan rantai pasok regional.

"Vietnam juga bertumbuh pesat karena lokasi geografis yang dekat dengan China membuatnya menjadi negara utama transshipment," katanya.

Adapun daya tarik utama Indonesia masih bertumpu pada besarnya pasar domestik atau consumer oriented. Selain itu, sektor pertambangan dan crude palm oil (CPO) juga menjadi salah satu tumpuan investasi asing di Indonesia. Namun, menurut David, kedua sektor tersebut saat ini bukan menjadi fokus utama investor global.

Berdasarkan data FDI semester I-2026, Singapura mencatat investasi asing sekitar US$ 86,2 miliar. Thailand mencapai US$ 40,5 miliar atau tumbuh 80% secara tahunan, Vietnam US$ 34,65 miliar atau naik 60%, dan Malaysia US$ 30,2 miliar atau tumbuh 18,5%.

Sementara itu, FDI Indonesia tercatat US$ 28,45 miliar atau sekitar Rp 507,6 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.836 per dolar AS. Filipina mencatat US$ 3,38 miliar atau turun 17,83% secara tahunan.

Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada kuartal II-2026, David menilai laju tersebut masih berada di atas tren pertumbuhan jangka panjang secara historis. Namun, investor tetap mencermati sejumlah risiko di Indonesia, terutama stabilitas nilai tukar, dinamika regulasi, dan kerentanan terhadap gejolak geopolitik.

"Kekhawatiran investor lebih terpusat pada stabilitas kurs, dinamika regulasi, serta kerentanan terhadap peristiwa geopolitik, khususnya dependensi terhadap minyak," jelas David.

Menurut David, perkembangan FDI tersebut menunjukkan adanya perubahan peta investasi ASEAN yang kini semakin berpusat pada sektor teknologi dan manufaktur.

Karena itu, Indonesia perlu menyesuaikan daya tarik investasinya dengan arah investasi global. Peningkatan kualitas dan kesesuaian spesialisasi SDM dengan kebutuhan industri serta kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan FDI di ASEAN.

"Indonesia perlu terus meningkatkan kualitas dan kesesuaian spesialisasi SDM serta kepastian regulasi untuk meningkatkan daya tarik terhadap investasi asing," pungkas David.

Baca Juga: RI Kalah Saing di ASEAN dalam Menarik Investasi Asing, Ekonom Beberkan Biang Keroknya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×