Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyebut upaya pemerintah dalam mencapai swasembada energi juga turut berdampak pada pembukaan lapangan kerja secara masif.
Amran mengatakan saat ini produksi bahan bakar campuran etanol mulai digarap. Menurutnya program alternatif bensin ini bisa membuka lapangan kerja hingga mencapai 8 juta orang.
"Kalau ini terjadi (realisasi etanol), minimal itu 8 juta tenaga kerja tercipta dan tenaga kerja permanen," kata Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Pemerintah menargetkan bauran bahan bakar campuran etanol 20% (E20) akan dikebut dalam dua tahun ini. Kemudian, pemerintah berkomitmen untuk melanjutkan program ini mencapai E50.
Baca Juga: E20 Meluncur Januari 2028, Pemerintah Siapkan Aturan Baru & Bangun 50 Pabrik Etanol
Kementerian Pertanian sendiri mendapatkan penugasan untuk penyediaan lahan untuk bahan baku energi alternatif ini.
Amran mengatakan khusus untuk E20, pihaknya menyiapkan 2 juta hektar lahan baru untuk tebu, jagung dan singkong.
Amran menegaskan bahwa lahan yang akan digunakan ini merupakan lahan hutan yang memang memang dialokasikan untuk tanaman pangan.
Menurutnya, saat ini ada 20 juta hektar lahan yang sudah tersedia untuk mendukung program ini.
Amran juga menegaskan bahwa pembabatan hutan menjadi opsi terakhir, jika lahan yang tersedia saat ini tidak sesuai untuk ditanami tiga komoditas strategis tersebut.
"Jadi jangan langsung babat hutan, nggak. Itu terakhir. Yang kedua adalah seluruh yang sudah dilepaskan kita pilih. Ada 1,3 juta hektar. Kita pilih lagi. Kalau sudah cocok dengan tebu, oke itu aja kita pakai," tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan instruksi kepada Kementerian ESDM untuk mulai menyusun strategi penerapan E50 di dalam negeri.
Menurut Bahlil, pemerintah akan mengambil pelajaran dari implementasi B50 yang menggunakan produk turunan kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel. Keberhasilan program tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah untuk mengembangkan skema serupa pada bahan bakar berbasis bioetanol.
Baca Juga: Presiden Prabowo Akan Bangun hingga 50 Pabrik Etanol, Kejar Implementasi Bensin E20
"Kami juga telah memutuskan bahwa untuk jangka panjang, kita mempelajari tentang kesuksesan daripada B50, di mana B50 ini adalah hasilnya dari CPO dicampur dengan metanol kemudian menjadi FAME, yang ini mengantarkan kita untuk tidak lagi melakukan impor solar untuk khusus CN 48" ujarnya di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Bahlil menyebut, capaian pengurangan impor solar melalui B50 menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk mempercepat penyusunan peta jalan E50. Presiden Prabowo, kata dia, meminta Kementerian ESDM segera merumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjalankan program tersebut.
"Nah, belajar berangkat dari ini, Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," jelas Bahlil.
Rencana pengembangan E50 tersebut tidak terlepas dari besarnya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Pemerintah melihat konsumsi bensin dan solar Indonesia berada pada level yang relatif berimbang sehingga pengembangan bahan bakar nabati diarahkan untuk menjangkau kebutuhan energi yang lebih luas.
Bahlil mengungkapkan, konsumsi solar nasional mencapai sekitar 39 juta kiloliter (KL) per tahun. Sementara itu, kebutuhan bensin juga berada pada kisaran 39 juta KL hingga 40 juta KL per tahun.
Baca Juga: Pemerintah Buka Keran Bebas Cukai untuk Campuran Etanol dan BBM
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














