Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, memprediksi inflasi pada April 2026 berpotensi mengalami kenaikan tahunan (year on year/yoy) ke level kisaran 3,7%-3,9%, dengan titik tengah 3,8%
Rizal menilai, kenaikan harga LPG non-subsidi, BBM non-subsidi, serta sejumlah komoditas seperti sayuran dan bahan kemasan plastik akan menjadi pendorong utama inflasi, terutama dari kelompok administered prices dan volatile food.
Namun demikian, ia melihat transmisi kenaikan tersebut terhadap inflasi inti masih terbatas. Hal ini sejalan dengan kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, sehingga tekanan harga tidak sepenuhnya diteruskan ke konsumen.
Baca Juga: BI Yakin Ekonomi RI 2026 Tumbuh di Rentang 4,9%-5,7% Meski Ada Gejolak Global
“Artinya, inflasi April berpotensi naik secara bulanan, tetapi tidak melonjak tajam secara tahunan,” ujar Rizal kepada Kontan, Rabu (22/4/2026).
Ia menjelaskan, proyeksi tersebut mengacu pada realisasi inflasi Maret 2026 sebesar 3,48% (yoy) yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai anchor. Dari basis tersebut, tekanan tambahan berasal dari faktor energi, pangan, serta rambatan ke inflasi inti.
Untuk faktor energi, Rizal mencermati adanya kenaikan harga minyak mentah Indonesia alias Indonesia Crude Price (ICP) yang berada di atas US$ 100 per barel, serta penyesuaian harga BBM non subsidi dan LPG non-subsidi. Sementara dari sisi pangan, kenaikan harga sayuran dan komoditas harian turut memberikan tekanan tambahan.
Di sisi lain, tekanan pada inflasi inti juga mulai terlihat melalui kenaikan biaya kemasan, logistik, serta pengaruh nilai tukar.
"Dengan menggunakan pendekatan pass-through empiris, kontribusi tambahan inflasi diperkirakan berasal dari energi sekitar 0,10–0,18 poin, pangan 0,08–0,15 poin, dan inflasi inti sebesar 0,03–0,07 poin," ungkap Rizal.
Dengan berbagai faktor tersebut, Rizal memproyeksikan inflasi April 2026 akan berada di kisaran 3,7% hingga 3,9% yoy, dengan titik tengah sekitar 3,8%.
Baca Juga: Luhut Optimis Ekonomi Indonesia Masih Terjaga dalam Tiga Bulan ke depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













