kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.027.000   167.000   5,84%
  • USD/IDR 16.821   26,00   0,15%
  • IDX 7.887   -442,44   -5,31%
  • KOMPAS100 1.101   -63,78   -5,47%
  • LQ45 800   -33,16   -3,98%
  • ISSI 278   -20,20   -6,79%
  • IDX30 418   -11,50   -2,68%
  • IDXHIDIV20 502   -7,68   -1,51%
  • IDX80 123   -6,46   -5,00%
  • IDXV30 135   -3,96   -2,85%
  • IDXQ30 136   -2,34   -1,69%

Indef Proyeksi Inflasi Naik Bertahap di Kuartal I-2026, Tertekan Faktor Musiman


Senin, 02 Februari 2026 / 10:40 WIB
Indef Proyeksi Inflasi Naik Bertahap di Kuartal I-2026, Tertekan Faktor Musiman
ILUSTRASI. Inflasi kuartal I-2026 diprediksi naik bertahap menjelang Ramadan walau risiko daya beli masyarakat masih lemah


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan inflasi pada kuartal I-2026 diperkirakan meningkat secara bertahap, terutama menjelang periode Ramadan dan Idul fitri. Namun, lonjakan inflasi yang tajam dinilai kecil kemungkinannya terjadi seiring daya beli masyarakat yang masih melemah.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman mengatakan, inflasi pada awal 2026 lebih mencerminkan pola musiman yang berulang dan relatif terprediksi, bukan sinyal tekanan inflasi struktural.

“Inflasi Kuartal I berpotensi naik secara gradual, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda overheating dari sisi permintaan. Daya beli masyarakat secara fundamental masih lemah,” ujar Rizal kepada Kontan, dikutip Senin (2/2/2026).

Rizal menjelaskan, inflasi Januari 2026 secara bulanan diperkirakan melandai seiring berakhirnya tekanan musiman Natal dan Tahun Baru (Nataru) serta normalisasi permintaan konsumsi rumah tangga.

Pola ini konsisten dengan karakter Januari sebagai bulan koreksi harga, terutama pada kelompok transportasi dan rekreasi.

Baca Juga: Serapan APBN Awal 2026 Masih Tertahan, Dorongan Fiskal ke Ekonomi Belum Maksimal

Meski demikian, pelemahan inflasi Januari tidak sepenuhnya tanpa risiko. Tekanan masih dapat muncul dari sisi pasokan pangan, khususnya akibat gangguan distribusi dan produksi di sejumlah wilayah Sumatra pascabencana alam.

“Artinya, tekanan inflasi Januari lebih bersifat cost-push yang terbatas, bukan karena permintaan yang menguat,” jelasnya.

Secara tahunan, Rizal menilai inflasi masih tertahan oleh basis inflasi tahun sebelumnya yang relatif moderat serta kondisi permintaan domestik yang belum menunjukkan tanda-tanda overheating.

Dengan demikian, tekanan inflasi pada kuartal I-2026 cenderung bersifat sementara dan berpotensi mereda pasca Lebaran, selama tidak muncul guncangan tambahan.

“Risiko baru akan muncul jika ada penyesuaian harga yang diatur pemerintah (administered prices) atau tekanan dari nilai tukar,” tambah Rizal.

Adapun sumber utama pergerakan inflasi pada kuartal I-2026 masih akan didominasi oleh kelompok volatile food, terutama beras dan komoditas hortikultura yang sangat sensitif terhadap faktor cuaca dan kelancaran distribusi.

Di luar pangan, harga emas justru berperan sebagai faktor penahan inflasi inti. Ketidakpastian global mendorong preferensi rumah tangga terhadap aset lindung nilai, sehingga menahan laju inflasi inti. Sementara itu, inflasi non-pangan lainnya relatif terbatas, mencerminkan perilaku konsumsi masyarakat yang masih selektif.

Baca Juga: PMI Manufaktur Indonesia Januari 2026 Naik ke 52,6, Didukung Permintaan Domestik

“Ini menegaskan bahwa tantangan inflasi kuartal I lebih pada manajemen pasokan dan ekspektasi. Kebijakan yang dibutuhkan adalah penguatan stabilisasi pangan dan logistik, bukan pengetatan makro yang berlebihan,” pungkas Rizal.

Selanjutnya: Hartadinata (HRTA) Gandeng Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk Jual Beli Emas Batangan

Menarik Dibaca: Layar Huawei MatePad 11.5: Fitur Tersembunyi Ini Bikin Kagum

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×