Reporter: Ratih Waseso | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski pandemi Covid-19 memiliki dampak yang cukup dalam terhadap dunia usaha terutama sektor UMKM. Namun faktanya masih ada UMKM yang mampu adaptif hingga mampu rambah pasar ekspor produknya.
Seperti yang dilakukan Syahrial Aman pemilik Syam's Handicraft, UMKM yang memproduksi tas anyaman asal Pati Jawa Tengah. Desember tahun lalu Syahrial berhasil melakukan ekspor ke Jepang sebanyak 500 buah tas anyaman lewat agen dari Jakarta. Meski belum melakukan ekspor mandiri namun langkah tersebut menjadi jalan meluasnya pemasaran produknya.
Untuk pesanan tas anyaman ke Jepang, Syam's Handicraft sudah mendapatkan pre order hingga bulan Mei. Jika dihitung pre order ke Jepang lewat agen di Jakarta ada sekitar 2.900 buah. Sedangkan agen yang membantu ekspor Syahrial ke Jepang dari Bali hingga Januari akhir nanti ada sekitar 2.000 pesanan tas.
"Tapi untu yang itu kami masih tanpa label. Kalau yang lewat ITPC (Indonesia Trade Promotion Center) itu pakai label kami, jadi nanti lewat pameran langsung. Tahun ini kami diberi kesempatan dua kali pameran di Jepang," tutur Syahrial, Jumat (21/1).
Baca Juga: Jokowi: Tak Boleh ada Akses Pembiayaan Sulit Bagi Sektor Informal
Selain Jepang, Syahrial sebelumnya sudah melakukan ekspor ke Amerika, Virginia, Turki dan Australia. Hanya saja untuk negara tersebut porsi ekspornya masih sangat kecil. Kini Syahrial tengah mengembangkan motif dan desain tas anyaman terbaru yang sesuai dengan permintaan pasar global.
Syahrial menyebut, Ia memang ingin fokus menyasar pasar ekspor untuk tahun ini. Oleh karenanya guna mengenalkan produk lebih masif kini Syahrial memiliki tim content creator untuk membuat konten branding dari produk Syam's Handicraft.
"Kita sebenarnya sudah ada rencana kerjasama untuk tembus Eropa. Karena disana permintaan saya rasa akan sama besarnya seperti Jepang. Sekarang masih proses," jelasnya.
Asal tahu saja, dalam sebulan Syam's Handicraft mampu menjual 10.000 hingga 20.000 buah tas anyaman. Porsi penjualan domestik sendiri 70%-80% dan sisinya ekspor. "Tahun ini harapannya omzet bisa diatas Rp 1 miliar sebulan, kami sedang terus mengembangkan penganyam juga agar kapasitas bisa lebih besar," kata Syahrial optimistis.
Syahrial menceritakan, langkah usahanya dapat melaju hingga ekspor tak lepas dari upayanya dalam memperbesar jejaring. Pelatihan dan komunitas juga membantu banyak pengembang usahanya. Lewat pelatihan dan komunitas Syahrial menyebut, informasi akan banyak tersedia terutama ekspor.
Hanya saja, jika UMKM ingin merambah pasar global, tentu kualitas menjadi perhatian. Sertifikasi usaha dan produk juga harus dilakukan. Seperti buyer Jepang misalnya, Syahrial menceritakan produknya harus lulus uji tarik atau kekuatan sebelum kesepakatan pembelian.
"Kalau mau ekspor yang tidak terlalu effort tinggi itu kita bisa lewat agen-agen. Kita harus bisa cari jaringan. Juga komunitas yang bisa jadi tempat kita untuk mengembangkan pasar karena dari jejaring itu kita bisa dapat informasi pasar-pasar dan juga permintaan permintaan di pasar seperti apa," jelasnya.
Baca Juga: Bank BRI Berdayakan UMKM dari Klaster Tanaman Hias
Selanjutnya, ada Pemilik CV Tri Utami Jaya Nasrin H Muhtar yang memiliki spesialisasi produksi olahan daun kelor. CV Tri Utami Jaya yang memiliki pabrik pengolahan daun kelor berstandar internasional terbesar, pertama dan satu-satunya di NTB. Saat ini pabrik Tri Utami Jaya memiliki kapasitas produksi 200 ton per hari.
Tak hanya itu, produk daun teh kelor keluaran pabriknya juga telah dipasarkan hampir ke 13 negara di Amerika Serikat (AS) maupun Eropa. Terbaru, Tri Utami Jaya tengah menyiapkan ekspor daun teh kelor ke Madrid. Olahan kelor Nasrin yang akan diekspor ke Madrid nantinya melalui diaspora Indonesia disana.
"Saya tahun ini siap ekspor untuk kapasitas yang besar. Sebelumnya kita kecil-kecil ribuan teh kelor, buat kapasitas besar kita siap tahun ini. Terakhir kirim baru 10 kilogram ke Belanda dan Belgia, di awal tahun ini," kata Nasrin.
Nasrin juga mengolah daun kelor menjadi produk herbal yang dibantu dipasarkan apotek Kimia Farma dan beberapa hotel di Indonesia. Tak hanya menjadi teh, Nasrin juga mengolah kelor menjadi masker wajah, sabun, hingga camilan.
Baca Juga: Talenta Wirausaha BSI Ciptakan UMKM Berkualitas
"Saya ingin ada inovasi nanti tidak hanya daunnya saja tapi juga batang, akar hingga buah kelor. Bisa ada mie kelor, bakso kelor, sampo kelor, handbody kelor, minyak kelor," imbuhnya.
Omzet perbulan yang dikantongi Nasrin rata-rata ialah Rp 50 juta. Namun awal pandemi lalu, Nasrin dalam tiga bulan mampu meraih omzet hingga Rp 4 miliar lantaran adanya program pemerintah daerah yang membantu pemasaran produknya.
Kelor memiliki kandungan yang kaya vitamin dan mineral, yang dipercaya mampu meningkatkan imunitas. Tak heran olahan kelor banyak dicari masyarakat saat pandemi.
Ke depan, Nasrin berencana memperluas lahan budidaya kelor hingga 1.000 hektare. Kini Nasrin bersama para petani kelor lainnya di NTB memiliki total luasan lahan budidaya sekitar 250 hektare. Dengan luasan yang ditingkatkan Nasrin optimis dapat memenuhi permintaan pasar global. Selama ini permintaan kelor di pasar global baru dipenuhi oleh negara India dan juga Afrika.
Sama seperti Syahrial, Nasrin menyebut bagi UMKM yang ingin merambah pasar ekspor selain harus memperluas jaringan juga harus menyiapkan ketersediaan bahan baku dari produknya. Pelaku usaha harus memiliki komitmen dalam memenuhi permintaan ekspor termasuk juga kualitas dari produk.
"Bahan baku dipenuhi dulu, lalu kualitas izin sertifikasi itu penting kalau mau ekspor," ujarnya.
Baca Juga: BSI Salurkan Pembiayaan ke Segmen UMKM Senilai Rp 38,3 Triliun Sepanjang 2021
Sementara, Mistianingrum, pemilik usaha Bamboo Arum Straw belum sempat melakukan ekspor, lantaran adanya pandemi Covid-19. Namun sebelumnya sejak tahun 2018, ia sudah mengekspor sedotan bambu ke United Kingdom dan Italia.
"Saya tahun 2020 itu sudah selesai urus semua syarat ekspor mandiri dengan nama perusahaan kan selama ini lewat orang lain. Eh malah ada pandemi, itu kendala. Sekarang kita permintaan domestik juga belum balik normal," ceritanya.
Selama pandemi Mistiani melakukan inovasi dengan membuat produk bambu untuk home decor. Inovasi ini muncul dari permintaan buyer asal Italia dan Albania. Dari permintaan tersebut Mistiani justru mampu menambah jenis produk buatannya selain sedotan bambu.
Kini selain sedotan bambu mistiani juga terus mengembangkan inovasi produk home decor yang berbahan dasar bambu. Hanya saja untuk permintaan produk home decor ke pasar ekspor masih kecil dibandingkan dengan sedotan bambu.
"50.000 pcs perbulan sedotan bambu. Home decor dia seni jadi permintaan belum banyak kayak sedotan, masih 500 pcs," ungkapnya.
Saat pandemi, mistiani mengungkapkan, terjadi penurunan omzet tiap bulannya hampir 75%. Saat ini, saban bulannya omzet yang dapat dikantongi hanya sekitar Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Hal tersebut tak lepas dari sektor pariwisata yang masih belum pulih sepenuhnya.
Adapun untuk kiat bagi UMKM yang ingin merambah pasar ekspor mistiani menyebut pelaku usaha harus memperluas jejaring komunitas. Lewat jejaring selain informasi pasar mistiani juga menyebut ada potensi untuk berkolaborasi dengan UMKM lain.
"Jangan pantang menyerah, konsisten inovatif dan adaptif. Ikuti pelatihan dari pemerintah karena bisa perluas jaringan dan bisa kolaborasi," imbuhnya.
Baca Juga: Ciptakan Narasi Inspiratif, BRI Fellowship Journalism Ingin Dorong UMKM Bangkit
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












