kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   -50.000   -1,73%
  • USD/IDR 16.999   50,00   0,30%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Ekonom UGM: WFH Sehari Seminggu Dinilai Tak Efektif Tekan Konsumsi BBM


Senin, 23 Maret 2026 / 10:12 WIB
Ekonom UGM: WFH Sehari Seminggu Dinilai Tak Efektif Tekan Konsumsi BBM
ILUSTRASI. WFH (Allianz/Allianz)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.DI - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel berpotensi memberikan tekanan signifikan pada perekonomian Indonesia.

Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi Energi Fahmy Radhi dari Universitas Gadjah Mada melalui keterangannya Senin (23/3/2026).

Baca Juga: DJP Ingatkan: Meski Pajak Dipotong, Pelaporan SPT Tetap Harus Dilakukan

Penutupan Selat Hormuz mendorong harga minyak global menembus level US$ 100 per barel, dengan harga minyak Brent mencapai US$ 112,19 per barel pada 20 Maret 2026.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi Indonesia yang masih berstatus sebagai net importer minyak.

“Dampaknya antara lain membengkaknya subsidi BBM dalam APBN, meningkatnya inflasi impor, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” kata Fahmy.

Inflasi impor pada Maret 2026 diperkirakan berada di kisaran 3,07%–4,8% secara tahunan, yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat. Rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 17.000 per dolar AS.

Untuk meredam dampak tersebut, pemerintah berencana menerapkan kebijakan efisiensi energi, salah satunya melalui program Work From Home satu hari dalam seminggu (WFH-1) bagi ASN dan pekerja swasta pasca-Lebaran.

Baca Juga: Pertumbuhan Pajak 2026 Didukung Aktivitas Digital, Sektor Perdagangan Melonjak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan kebijakan ini dapat menghemat konsumsi BBM hingga 20% jika diterapkan secara konsisten.

Meski begitu, Fahmy menekankan tantangan besar dalam implementasi WFH-1.

“Barangkali ASN dan pekerja swasta tidak benar-benar bekerja di rumah pada hari Jumat, tetapi Work From Everywhere (WFE) di tempat wisata sambil menikmati long weekend, sehingga konsumsi BBM tidak dapat dihemat signifikan,” ujarnya.

Selain itu, kebijakan WFH-1 berpotensi berdampak negatif pada sektor lain. Pendapatan sektor transportasi, termasuk ojek online, serta pelaku UMKM yang bergantung pada pekerja kantoran bisa menurun.

Di sektor industri, penerapan WFH-1 bagi pekerja manufaktur juga dikhawatirkan menurunkan produktivitas, merugikan dunia usaha.

Baca Juga: Hari H Lebaran 2026, Sebanyak 873.916 Orang Tercatat Gunakan Angkutan Umum

Fahmy menekankan agar pemerintah menghitung secara cermat antara manfaat dan biaya kebijakan tersebut.

“Jangan sampai penerapan WFH-1 memberikan manfaat penghematan subsidi BBM, tetapi sektor lain yang harus menanggung biayanya,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×