kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Ekonom: Rata-Rata Kontribusi KEK Terhadap PDB RI Masih Belum Optimal


Senin, 15 Mei 2023 / 11:15 WIB


Reporter: Bidara Pink | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danareksa Research Institute (DRI) menghitung, rata-rata kontribusi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) ke produk domestik bruto (PDB) Indonesia periode 2019 hingga 2022 baru mencapai 1,31%. 

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai, kontribusi KEK terhadap PDB Indonesia ini belum sebanding dengan berbagai insentif yang diberikan oleh pemerintah. 

Bhima bilang, kontribusi yang ideal untuk KEK di Indonesia adalah lebih dari 10% PDB. 

"China bisa mencapai 22% PDB. Idealnya, untuk negara yang baru mulai KEK atau jumlahnya masih sedikit seperti Indonesia bisa di atas 10%," tutur Bhima kepada Kontan.co.id, Jumat (12/5). 

Baca Juga: DRI: Rata-Rata Kontribusi KEK di Indonesia Terhadap PDB Baru Sekitar 1,31%

Menurutnya, selama ini kucuran insentif dari pemerintah tidak tepat sasaran dan kurang spesifik dengan yang dibutuhkan para penanam modal. Sehingga, investasi yang masuk tidak kemudian membawa dampak terlalu besar terhadap pertumbuhan ekonomi. 

Bhima pun mengajukan beberapa saran untuk memperkuat sumbangan KEK terhadap pertumbuhan ekonomi. Pertama, insentif harus disesuaikan dengan kebutuhan industri dan investor yang ada. 

"Jangan melulu obral pajak, karena ini bukan satu-satu yang dibutuhkan," terangnya. 

Kedua, benahi kapasitas SDM Indonesia untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja maupun pihak yang terlibat. Ketiga, jangan asal menerima usulan daerah menjadi KEK. Karena menurutnya, tidak semua daerah bisa menjadi KEK. 

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Naik Menjadi US$ 402,8 Miliar pada Kuartal I 2023

Keempat, memperbaiki infrastruktur yang ada terkait dengan kualitas jalan, stabilitas pasokan listrik, serta kualitas dan akses air bersih.

Kelima, perlu mempertimbangkan akses dari KEK ke bahan baku agar menekan biaya logistik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×