Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. HSBC Global Research menilai arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang masih lesu saat ini berpotensi kembali mengalir deras ke Indonesia setelah tarif resiprokal 19% resmi diterapkan.
Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan momentum tersebut, terutama di sektor manufaktur berteknologi menengah (mid-tech manufacturing).
Menurutnya, ketidakpastian terkait perdagangan dan tarif selama ini membuat banyak perusahaan global menunda ekspansi.
"Seiring aturan tarif baru yang difinalisasi, banyak perusahaan modal ventura di seluruh dunia dapat kembali beroperasi dan FDI pun dapat kembali beroperasi," ujar Pranjul dalam Media Briefing yang digelar secara virtual, Jumat (8/8).
Baca Juga: Duta Intidaya (DAYA) Memacu Bisnis Watsons, Gelar Program Diskon 8.8 Shopathon
Ia menyebut, Indonesia bisa menjadi tujuan FDI pada paruh kedua tahun ini, dengan fokus pada industri mid-tech yang padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur.
Menurutnya, sektor-sektor ini sedang mengalami perombakan rantai pasok global yang dapat menguntungkan negara-negara ASEAN.
"Saya rasa Indonesia dapat menarik FDI di putaran kedua, terutama di sektor manufaktur berteknologi menengah," katanya.
Meski sudah memiliki basis ekspor di sektor ini, menurut Pranjul, skala produksi Indonesia dinilai masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan, ekspor pakaian jadi Indonesia ke dunia saat ini hanya sekitar 25% dari Vietnam.
"Dan ketika aturan baru berlaku, mungkin bisa menarik lebih banyak FDI di sektor mid-tech yang padat karya ini," pungkasnya.
Baca Juga: Founder DATA dan Petinggi GULA Borong Saham PPRI, Ini Tujuannya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News