kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Tarif AS 19% Berlaku, Ini Sektor yang Diprediksi Bakal Kebanjiran Investor Asing


Jumat, 08 Agustus 2025 / 12:48 WIB
Tarif AS 19% Berlaku, Ini Sektor yang Diprediksi Bakal Kebanjiran Investor Asing
ILUSTRASI. REUTERS/Yuriko Nakao. Ekonom HSBC menilai arus investasi asing langsung yang lesu saat ini berpotensi kembali masuk ke RI setelah tarif resiprokal 19% resmi diterapkan.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. HSBC Global Research menilai arus investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang masih lesu saat ini berpotensi kembali mengalir deras ke Indonesia setelah tarif resiprokal 19% resmi diterapkan.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research, Pranjul Bhandari mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar memanfaatkan momentum tersebut, terutama di sektor manufaktur berteknologi menengah (mid-tech manufacturing).

Menurutnya, ketidakpastian terkait perdagangan dan tarif selama ini membuat banyak perusahaan global menunda ekspansi.

"Seiring aturan tarif baru yang difinalisasi, banyak perusahaan modal ventura di seluruh dunia dapat kembali beroperasi dan FDI pun dapat kembali beroperasi," ujar Pranjul dalam Media Briefing yang digelar secara virtual, Jumat (8/8).

Baca Juga: Duta Intidaya (DAYA) Memacu Bisnis Watsons, Gelar Program Diskon 8.8 Shopathon

Ia menyebut, Indonesia bisa menjadi tujuan FDI pada paruh kedua tahun ini, dengan fokus pada industri mid-tech yang padat karya seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, dan furnitur.

Menurutnya, sektor-sektor ini sedang mengalami perombakan rantai pasok global yang dapat menguntungkan negara-negara ASEAN.

"Saya rasa Indonesia dapat menarik FDI di putaran kedua, terutama di sektor manufaktur berteknologi menengah," katanya. 

Meski sudah memiliki basis ekspor di sektor ini, menurut Pranjul, skala produksi Indonesia dinilai masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan, ekspor pakaian jadi Indonesia ke dunia saat ini hanya sekitar 25% dari Vietnam. 

"Dan ketika aturan baru berlaku, mungkin bisa menarik lebih banyak FDI di sektor mid-tech yang padat karya ini," pungkasnya. 

Baca Juga: Founder DATA dan Petinggi GULA Borong Saham PPRI, Ini Tujuannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×