kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.964.000   20.000   1,03%
  • USD/IDR 16.488   106,00   0,65%
  • IDX 7.830   -121,60   -1,53%
  • KOMPAS100 1.089   -17,02   -1,54%
  • LQ45 797   -14,45   -1,78%
  • ISSI 265   -3,29   -1,23%
  • IDX30 413   -7,90   -1,88%
  • IDXHIDIV20 481   -7,60   -1,56%
  • IDX80 120   -2,17   -1,77%
  • IDXV30 129   -2,94   -2,22%
  • IDXQ30 134   -2,35   -1,73%

Ekonom HSBC Ungkap Sektor Informal Jadi Penyelamat Ekonomi Indonesia pada 2025


Jumat, 08 Agustus 2025 / 11:03 WIB
Ekonom HSBC Ungkap Sektor Informal Jadi Penyelamat Ekonomi Indonesia pada 2025
ILUSTRASI. Kawasan bisnis dan perkantoran di Jakarta Selatan, Kamis (9/1/2025).KONTAN/Carolus Agus Waluyo). HSBC Global Research menilai perbaikan ekonomi RI pada 2025 banyak ditopang oleh sektor informal, di tengah masih lemahnya kinerja sektor formal.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. HSBC Global Research menilai perbaikan ekonomi Indonesia pada 2025 banyak ditopang oleh sektor informal, di tengah masih lemahnya kinerja sektor formal.

Chief Indonesia and India Economist, HSBC Global Research, Pranjul Bhandari mengatakan, pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter tahun ini mulai mengalir ke konsumsi, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah.

"Karena inflasi turun cukup tajam, meningkatkan daya beli konsumen massal yang sensitif harga," ujar Pranjul dalam Media Briefing yang digelar secara virtual, Jumat (8/8).

Baca Juga: Beda Arah Kinerja Emiten Penyokong Ekonomi

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, pertumbuhan ekonomi kuartal II-2025 mampu mencapai 5,12%, tertinggi dalam dua tahun, dan meningkat dari 4,87% pada kuartal sebelumnya. 

Pranjul menekankan, sektor informal memegang peran besar dalam perekonomian, dengan kontribusi 60% terhadap lapangan kerja dan 55% terhadap konsumsi nasional.

"Pada 2025, meski sektor formal belum membaik, sektor informal menunjukkan kinerja jauh lebih baik," katanya.

Kendati begitu, ia mengingatkan pertumbuhan saat ini belum cukup untuk menutup kesenjangan output. Ia menyarankan pemerintah untuk mendorong investasi korporasi agar pertumbuhan bisa lebih tinggi dan berkelanjutan.

"Kita butuh pertumbuhan lebih tinggi dalam waktu lebih lama. Caranya, investasi korporasi harus meningkat. Saat ini perusahaan banyak menabung, tapi enggan berinvestasi," pungkasnya. 

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tak Sejalan dengan Kinerja Emiten di Bursa

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] AI-Powered Scenario Analysis AYDA dan Penerapannya, Ketika Debitor Dinyatakan Pailit berdasarkan UU. Kepailitan No.37/2004

[X]
×