kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

Ekonom Indef : Pemerintah perlu perbaiki ICOR ke level 4


Jumat, 09 Agustus 2019 / 20:46 WIB


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Salah satu isu yang disasar pemerintah dalam melakukan transformasi ekonomi Indonesia ialah menurunkan incremental capital-output ratio alias ICOR yang masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain.  

ICOR merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, biaya investasi yang harus dikeluarkan semakin efisien juga untuk menghasilkan output tertentu. 

Baca Juga: ICOR Indonesia masih tinggi, Menkeu: Kualitas pendidikan dan birokrasi jadi penyebab

Tahun 2014, ICOR Indonesia tercatat sebesar 5.5. Angka tersebut lumayan tinggi dibandingkan Vietnam 5,2, India 4,9, Malaysia 4,6, Thailand 4,5,dan Filipina 3,7. 

Namun, di saat rata-rata negara Asia Tenggara mengalami penurunan ICOR ke kisaran 3-4, Indonesia justru mencatat ICOR lebih tinggi yaitu menyentuh 6,3 pada 2018. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, tingginya ICOR menjadi masalah bagi Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. “Untuk konteks Indonesia, idealnya ICOR bisa di bawah 4,” ujar Bhima, Jumat (9/8). 

Bhima berpendapat, ada beberapa hal yang menjadi kunci untuk menurunkan biaya berinvestasi di Indonesia.

Baca Juga: Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan, pemerintah masih sulit turunkan ICOR




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×