kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.900.000   50.000   1,75%
  • USD/IDR 17.015   -85,00   -0,50%
  • IDX 7.279   308,18   4,42%
  • KOMPAS100 1.006   48,66   5,08%
  • LQ45 734   31,96   4,56%
  • ISSI 261   11,11   4,45%
  • IDX30 399   16,64   4,35%
  • IDXHIDIV20 487   15,47   3,28%
  • IDX80 113   5,31   4,92%
  • IDXV30 135   4,22   3,24%
  • IDXQ30 129   4,64   3,73%

Ekonom Indef : Pemerintah perlu perbaiki ICOR ke level 4


Jumat, 09 Agustus 2019 / 20:46 WIB


Reporter: Grace Olivia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Salah satu isu yang disasar pemerintah dalam melakukan transformasi ekonomi Indonesia ialah menurunkan incremental capital-output ratio alias ICOR yang masih cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain.  

ICOR merupakan salah satu parameter yang dapat menunjukkan tingkat efisiensi investasi di suatu negara. Semakin kecil angka ICOR, biaya investasi yang harus dikeluarkan semakin efisien juga untuk menghasilkan output tertentu. 

Baca Juga: ICOR Indonesia masih tinggi, Menkeu: Kualitas pendidikan dan birokrasi jadi penyebab

Tahun 2014, ICOR Indonesia tercatat sebesar 5.5. Angka tersebut lumayan tinggi dibandingkan Vietnam 5,2, India 4,9, Malaysia 4,6, Thailand 4,5,dan Filipina 3,7. 

Namun, di saat rata-rata negara Asia Tenggara mengalami penurunan ICOR ke kisaran 3-4, Indonesia justru mencatat ICOR lebih tinggi yaitu menyentuh 6,3 pada 2018. 

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai, tingginya ICOR menjadi masalah bagi Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. “Untuk konteks Indonesia, idealnya ICOR bisa di bawah 4,” ujar Bhima, Jumat (9/8). 

Bhima berpendapat, ada beberapa hal yang menjadi kunci untuk menurunkan biaya berinvestasi di Indonesia.

Baca Juga: Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan, pemerintah masih sulit turunkan ICOR




TERBARU

[X]
×